BKKBN Jatim Gelar Pelatihan Teknis Agen Pencegahan Stunting Melalui E-learning

BKKBN Jatim Gelar Pelatihan Teknis Agen Pencegahan Stunting Melalui E-learning
Ket: Drs. Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd.

Sindikat Post, Surabaya – Perwakilan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Pelatihan Teknis Agen Pencegahan Stunting melalui E-learning.

Koordinator bidang Latbang BKKBN Jawa Timur, Sukamto, S.E., M.Si., dalam laporan pembukaan melalui aplikasi zoom menjelaskan tujuan diselenggarakannya pelatihan adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian dan keterampilan peserta agar mampu menjadi agen pencegahan stunting sebagai role model di wilayah masing-masing melalui pendampingan kepada ibu hamil dan keluarga baduta.

Ket: Arumi Bachsin.

“Hasil pelatihan ini diharapkan dapat penunjang tugas peserta dan berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting,” terang Sukamto. Selasa (8/6/2021).

Peserta dalam pelatihan berjumlah 85 orang dari 5 kabupaten yang menjadi prioritas dari wilayah yang terindikasi stunting. “Pejabat yang menangani stunting 1 orang dari OPD KB, Penyuluh KB sebanyak 4 orang, Bidan Desa sebanyak 4 orang, Pokja IV PKK Desa sebanyak 4 orang, Kader KB sebanyak 4 orang. Sedangkan untuk Penyuluh KB, Bidan Desa, Pokja IV PKK Desa dan Kader KB adalah tim yang berasal dari 1 desa sehingga masing-masing Kabupaten mengirim 4 tim dari 4 desa dan diharapkan berasal dari desa yang menjadi prioritas dari wilayah terindikasi stunting,” lanjut Sukamto.

Ket: Sukamto.

Sukamto juga menerangkan bahwa materi yang disampaikan pada Pelatihan Teknis Agen Pencegahan Stunting melalui E-Learning meliputi Kebijakan Percepatan Penurunan Stunting, 1000 HPK, Dasar-dasar konseling Keluarga, Pendampingan Ibu Hamil, Kesehatan Gizi Ibu Hamil, Kesehatan Reproduksi Ibu Hamil dan Baduta, Pengasuhan Baduta, Pemenuhan Gizi Baduta, Overview pelatihan, Building Learning Commitment (BLC), dan Rencana Tindak lanjut (RTL).

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Drs. Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd., dalam sambutannya menerangkan Tahun 2019 prevalensi stunting di Indonesia adalah 27,6 persen dan menempati urutan ke-4 negara dengan angka stunting tertinggi di dunia.

“Lebih kurang sebanyak 9 juta atau 37 persen balita Indonesia mengalami stunting. Angka ini ditargetkan turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Namun adanya pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020, yang membawa dampak dalam semua aspek kehidupan masyarakat, dikhawatirkan memicu meningkatnya angka kemiskinan, kekurangan gizi, kehamilan tidak diinginkan, hingga stunting bila tidak segera diantisipasi dengan program-program yang dapat langsung menyentuh masyarakat,” terangnya.

Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin, dalam sambutan pembukaan menjelaskan ada 2 intervensi dalam penanganan Stunting, yakni intervensi sensitif dan intervensi spesifik.

“Intervensi spesifik contohnya pemanfaatan tanaman boga di desa-desa untuk pemenuhan gizi bayi,” terang Arumi.

Arumi dalam kesempatan itu berpesan kepada TP PKK di daerah-daerah agar ikut mendata jika adanya bayi Stunting. “Melalui Posyandu, bisa mendata lengkap bayi, dan bisa mendata jika ada menemukan kasus Stunting,” pungkas Arumi. @red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *