Rembug Bareng Kaper BKKBN Jatim dan Bupati Ngawi, “Turunkan Stunting dan Sukseskan PK 2021”

Rembug Bareng Kaper BKKBN Jatim dan Bupati Ngawi, “Turunkan Stunting dan Sukseskan PK 2021”

Sindikat Post, Ngawi – Dalam rangka upaya percepatan penurunan angka stunting dan kesuksesan Pendataan Keluarga 2021 di Jawa Timur. Kepala Perwakilan (Kaper) Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur, Drs. Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd., berkunjung ke Kabupaten Ngawi dan bertemu secara langsung dengan Bupati Ngawi, Bapak H.Ony Anwar, ST., M.H. Kamis (4/3/2021)

Dalam pertemuan itu, selain melakukan silaturahmi kepada Bupati Ngawi Terpilih Periode 2021-2024 tersebut, Bapak Sukaryo Teguh Santoso juga berkesempatan melakukan urun rembug dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Ngawi khususnya, dan di Jawa Timur pada umumnya.

Didampingi oleh Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Ngawi, Ibu dr Nugrahaningrum, dan Koordinator Bidang Dalduk BKKBN Jatim, Ibu Uni Hidayati, Bapak Teguh Sapaan akrab Kaper BKKBN Jatim menyampaikan bahwa Tahun 2021 BKKBN memiliki dua agenda besar nasional.

“Tahun 2021 ini BKKBN akan melaksanakan dua program Nasional yaitu Pendataan Keluarga 2021 yang akan berlangsung di Bulan April hingga Mei, dan juga terkait amanah Bapak Presiden untuk BKKBN dalam mengawal percepatan penurunan stunting hingga 14% di tahun 2024,” ujar Pak Teguh.

Pak Teguh mengungkapkan bahwa usaha untuk menurunkan angka tersebut tidaklah mudah apabila BKKBN berjalan tanpa ada nya dukungan dari sektor lain.

”Saat ini secara Nasional prevelensi angka stunting ada di angka di Jawa Timur ada di angka 26,9% Untuk mewujudkan hal tersebut, setiap tahun rata-rata kita harus menurunkan kurang lebih 3,5% angka yang besar, untuk itu dukungan dari Bapak Bupati, pemerintah daerah dan juga sektor terkait lainnya sangat kami butuhkan,” lanjut Pak Teguh.

Bapak Ony Anwar mengungkapkan bahwa dalam penanganan stunting selain harus didukung kerja keras dari semua komponen stakeholder, peran masyarakat juga sangat dibutuhkan. Misalkan mulai dari pola makan.

“Misalkan melalui makanan junkfood, itu secara tidak langsung memiliki pengaruh terhadap kesehatan, karena makanan ayam potong broiler itu mengandung hormon progesteron dan mempengaruhi terhadap pertumbuhan kadar testoteron konsumennya, bagi anak anak khususnya laki-laki dapat menimbulkan mikropeni, atau alat kelamin kecil jadi agak bertingkah laku menjadi lebih feminis,” ungkap Pak Ony.

Untuk itu di Kabupaten Ngawi terdapat program ketahanan pangan salah satunya adalah dengan pemberian sepasang ayam kampung bagi keluarga dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah.

“Kami menyediakan ayam kampung bagi penduduk miskin dengan memberikan satu pasang ayam kampung untuk menumbuhkan jiwa usaha dan meningkatkan ketahanan pangan, minimal untuk memenuhi kebutuhan di keluarganya selain itu juga dapat melestarikan kembali kebiasaan masyarakat tradisional jaman dulu seperti memelihara ayam, sambil berkebun, dalam meningkatkan ketahanan pangan ini juga memerlukan komitmen lintas sektor,” ujar Pak Ony.

Sementara itu, Ibu dr Nugrahaningrum Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Ngawi mengungkapkan kesiapannya dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui program Restu Ibu. “Gerakan Terpadu Tuntas Gizi Buruk” dan Program Bapak Asuh.
Restu Ibu merupakan program Unggulan Kabupaten Ngawi dalam penanganan penatalaksanaan Gizi Buruk, Program Restu Ibu dimulai sejak pencanangan bulan Maret 2013. Sedangkan Program Orang Tua Asuh merupakan penetapan orangtua asuh bagi balita gizi sangat kurang.

“Yang ditetapkan sebagai orangtua asuh adalah pejabat dimulai dari pejabat tingkat desa, kecamatan sampai dengan pejabat tingkat Kabupaten, dokter, bidan, dan perawat senior di Puskesmas. Dimana masing-masing orangtua asuh mempunyai 2 balita sasaran. Tugas orangtua asuh adalah memantau status gizi balita asuhan setiap bulan, dengan memberikan dukungan moril dan finansial sampai dengan balita mempunyai status gizi normal,” tutur Ibu Haning sapaan akrab kepala DP3AKB Kabupaten Ngawi tersebut.

Melalui Program Restu Ibu dan bapak asuh tersebut Kabupaten Ngawi mempunyai pengalaman menurunkan angka stunting dari 40% menjadi 20%. @red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *