Sidang Perdana Gugatan PMH Advokat Belly ke Mantan Kliennya

Sidang Perdana Gugatan PMH Advokat Belly ke Mantan Kliennya

Sindikat Post, Surabaya – Perseteruan antara pengacara (advokat) Belly V.S. Daniel Karamoy, S.H., M.H., dengan mantan kliennya Thie Butje Sutedja terus bergulir. Hari ini (Selasa, 24/11/2020) sidang perdana gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) yang dilayangkan Belly terhadap mantan kliennya di gelar di ruang Kartika 1, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Persidangan yang dipimpin oleh Majelis Hakim Imam Supriyadi, S.H., M.H., dengan panitera Wantiyah dihadiri Penasehat Hukum (PH) dari penggugat, Advokat Eko Juniarso, S.H., M.H., tanpa dihadiri pihak tergugat.

Di karenakan pihak tergugat tidak hadir, maka Majelis Hakim menyatakan sidang ditunda 1 Minggu kedepan dan digelar kembali pada tanggal 1 Desember 2020.

Ket: Eko Juniarso

Usai persidangan, Eko Juniarso diwawancarai awak media menjelaskan bahwa tergugat tanpa alasan tidak hadir di persidangan. “Tanpa alasan tergugat tidak hadir. Tergugat akan dipanggil lagi secara patut oleh Panitera PN Surabaya,” terang Eko.

Eko juga menjelaskan bahwa gugatan PMH dilayangkan karena kliennya di putus kuasanya oleh tergugat secara mendadak dan honorarium sebagai advokat belum diselesaikan oleh tergugat.

“Semestinya honorarium pengacara di selesaikan dulu, jangan tiba-tiba memutus kuasa ditengah jalan tanpa menyelesaikan honorariumnya. Malah klien kami dilaporkan penggelapan SHM dan uang, dan sekarang di jadikan tersangka oleh pihak penyidik Polrestabes Surabaya,” ungkap Eko.

“Dalam kesempatan ini saya menjelaskan semestinya pihak penyidik melihat ada fakta yang terjadi terkait perkara ini sebelum bang Belly ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Eko.

Perlu diketahui, perseteruan antara pengacara dan mantan kliennya ini berawal ketika Butje memutus kuasanya ke Belly dan meminta 3 SHM yang dibawa Belly akan tetapi Belly tidak memberikan. Hal itu disampaikan pengacara dari Butje yang dimuat beberapa media online.

Dari keterangan  pengacaranya Butje, bahwa Belly telah menggelapkan 3 Sertifikat Hak Milik (SHM) dan uang milik Butje sebesar Rp 300 juta dari hasil penjualan rumah/tanah. Sehingga Belly dilaporkan ke Polisi dengan pasal 372 dan atau 374 KUHP dan sekarang Belly berstatus sebagai tersangka oleh penyidik Polrestabes Surabaya.

Terkait penggelapan SHM dan sejumlah uang yang disematkan ke Belly, hal itu,  dibantah oleh penasehat hukum dari Belly, yakni Diyan Moelyadi, dan Eko Juniarso beberapa waktu lalu di media ini. Mereka menjelaskan bahwa SHM masih dikantor hukum kliennya dan tidak dipindah tangankan. SHM diserahkan, kalau Butje mengambil sendiri atau menguasakan seseorang secara hukum bisa mewakili pengambilan SHM tersebut.

Terkait uang yang dituduhkan digelapkan, pihak Belly menjelaskan bawah uang sebesar Rp 500 juta sebagai uang muka (DP) penjualan tanah milik Butje yang diserahkan oleh pembeli yakni notaris Felisia ke Belly atas persetujuan dari Butje dengan dasar untuk biaya operasional penanganan 10 perkara. Dan dari uang Rp 500 juta telah diminta Butje sebesar Rp 200 juta. @red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *