Harunesia Grup (HG) Diduga Jual Obat Herbal Kedaluwarsa

Harunesia Grup (HG) Diduga Jual Obat Herbal Kedaluwarsa

Sindikat Post, Surabaya – Tim Perwakilan Lembaga Perlindungan Konsumen Nusantara Indonesia (LPKNI) kota Surabaya mendatangi kantor perusahaan yang menjual obat herbal, CV. Harapan Baru Indonesia (Harunesia Grup/HG) Media Therapy Terma & Sujok di ruko HR Mohammad Surya Inti Pratama II Surabaya, Jawa Timur. Senin (23/11/2020).

Kedatangan Tim LPKNI kota Surabaya ke kantor HG untuk melakukan klarifikasi terkait pengaduan masyarakat yang telah membeli obat herbal merk JO FIT yang diduga kedaluwarsa. Hal itu disampaikan Nur Hadi, sekretaris LPKNI kota Surabaya.

Nur Hadi menjelaskan bahwa dirinya dan rekannya bernama Suja Ismail selaku pengawas LPKNI kota Surabaya ketika datang di kantor HG ditemui oleh direktur HG bernama Irfan dan bendaharanya bernama Mashari Haruna.

“Kami melakukan klarifikasi terkait obat herbal yang diduga sudah kedaluwarsa yang dijual kepada konsumen bernama Sri Hastuti. Pada saat itu pihak Harunesia Grup mengakui adanya kelalaian dari pihak gudang dan konsultan yang tidak teliti dalam cros cek obat sebelum di jual,” ungkapnya Nur Hadi ke awak media, Senin (23/11/2020).

Ket: Irfan

Nur Hadi juga menjelaskan dalam pertemuan itu, pihak Sri Hastuti meminta ganti rugi akan tetapi belum menemukan kesepakatan.

“Walaupun meminta maaf dan ganti rugi, namun tidak menghapus dugaan pidana. Karena dalam undang undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Pihak HG telah melakukan beberapa pelanggaran, jika perkara ini di laporkan kepada pihak berwajib tidak menutup kemungkinan HG di tutup/ijinnya di cabut, tidak boleh melakukan suatu kegiatan usaha,” pungkasnya.

Kesempatan yang sama,  Suja Ismail menegaskan jika pihak pengusaha tidak segera memberikan keputusan, maka LPKNI kota Surabaya akan melakukan langkah-langkah hukum sesuai perundang-undang yang berlaku.

Di kesempatan yang berbeda, awak media menghubungi anak dari Sri Hastuti bernama Aries, dari keterangannya, ibunya telah membeli obat herbal dari sales yang mendatangi rumah ibunya di Jalan Manukan Surabaya.

“Hari Kamis lalu (19/11/2020) ibu sendirian dirumah di datangi 4 orang menjual obat herbal yang harga paketnya Rp 7 Juta, dan di diskon menjadi Rp 3,5 juta. Karena ibu sakit depresi sering minum obat dan gampang tertekan akhirnya ibu mengeluarkan uang Rp 3,5 juta untuk membeli paketan obat herbal itu,” jelasnya ke awak media saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Senin (23/11/2020) petang.

“Besoknya (Jumat) ibu cerita ke adik saya bahwa beli obat herbal seharga Rp 3,5 juta, akhirnya kita telpon ke sales obat itu merefund uang ibu dan mengembalikan obat tersebut, akan tetapi tidak disetujui oleh perusahaan herbal itu,” urainya.

Pada saat Aries melihat obat herbal yang dibeli ibunya berjumlah 10 buah, ditemukanlah salah satu obat yang didusnya tercantum tanggalnya sudah kedaluwarsa (expired).

“Saya dari farmasi saya tahu expired tanggal obat, walaupun sebelumnya pihak sana tidak mengakui. Dan akhirnya dari pihak sana mengakui kalau itu memang expired dan kesalahan dari mereka. Sempat pada hari Minggu (22/11/2020) mereka datang ke rumah ibu, dan meminta obat itu dikembalikan dan mereka mengembalikan uang, akan tetapi kita ga mau. Biar ini jadi efek jera mereka yang menjual obat yang expired,” pungkasnya.

Untuk menggali informasi terkait permasalahan ini, awak media melakukan konfirmasi ke pihak Harunesia. Dan pihak Harunesia melalui Direkturnya, Irfan Haris membenarkan bahwa ada produk exparied didalam produk yang dijual.

“Memang benar ada yang exparied, itu human error dari konsultan kami yang salah ambil produk. Dari 11 produk yang di beli konsumen ada satu yang exparied, dan itu tanggung jawab konsultan yang salah ambil produk,” ungkap Irfan. Selasa (24/11/2020) siang.

“Jadi produk yang dijual di konsumen itu tidak semua yang exparied. Itu menandakan kita tidak sengaja tapi human error. Ketika tahu ada yang exparied dari konsumen, kita punya niat baik untuk mengganti produk dan mengembalikan uang sebesar Rp 3,5 juta. Tapi dari pihak konsumen tidak mau,” ungkapnya.

Irfan juga menjelaskan bahwa ada 2 konsultan yang bertanggung jawab dalam ini. “Sesuai kontrak itu tanggung jawab dari konsultan. Kami sebagai pimpinan sudah berusaha mengembalikan uang konsumen Rp 3,5 juta dan menarik produk, dan memberi kompensasi Rp 5 juta, akan tetapi dari pihak keluarga konsumen meminta lebih yang tidak bisa kami penuhi,” pungkas Irfan. @red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *