Honorarium Advokat Belum Diselesaikan, Belly Gugat PMH Mantan Kliennya

Honorarium Advokat Belum Diselesaikan, Belly Gugat PMH Mantan Kliennya
Ket: Eko Juniarso, S.H., M.H.

 

Sindikat Post, Surabaya – Perseteruan antara pengacara Belly V.S Daniel Karamoy, S.H., M.H., dengan mantan kliennya, Thie Butje Sutedja memasuki babak baru. Thie Butje Sutedja resmi digugat Perbuatan Melawan Hukum (PMH) di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Hal itu disampaikan salah satu Penasehat Hukum (PH) dari Belly, yakni Eko Juniarso, S.H., M.H.

“Hari ini kita sudah daftarkan surat gugatan Perbuatan Melawan Hukum terhadap Butje di Pengadilan Negeri Surabaya melalui e-court, dengan nomor perkara 1090/ Pdt.G/ 2020/ PN.Sby,” jelas Eko dikantor hukumnya jalan Kombes M. Duryat no 9, Surabaya, Jawa Timur. Rabu (11/11/2020).

Ket: Pendaftaran Gugatan PMH

Dari penuturan Eko, Ada beberapa dasar atas gugatan PMH tersebut. Yang pertama adalah laporan Butje terhadap Belly di polisi, Belly diduga menggelapkan 3 SHM dan sejumlah uang, sehingga Belly berstatus sebagai tersangka di Polrestabes Surabaya.

Yang kedua, Honorarium Advokat dan sukses fee yang belum diselesaikan Butje ke Belly sewaktu mereka mempunyai ikatan hukum antara pemberi kuasa dan penerima kuasa di beberapa perkara yang ditangani Belly sebagai kuasa hukum dari Butje.

“Kita udah jelaskan pada hari Senin (9/11/2020) di beberapa media, bahwa pak Belly tidak berbuat seperti yang dituduhkan. Dan kita juga jelaskan bahwa kita akan ambil beberapa langkah hukum terkait persoalan ini, salah satunya gugatan PMH yang kita daftarkan hari ini,” ungkap Eko.

“Kita berpendapat bahwa pak Belly tidak melakukan apa yang disangkakan melanggar pasal 372 dan 374. Dan Butje melalaikan kewajibannya menyelesaikan pembayaran atas jerih payah kinerja pak Belly, maka patut disebut Butje melakukan Perbuatan Melawan Hukum,” terang Eko.

“Dari itu semua kita berpendapat, perbuatan¬† Butje telah memenuhi unsur Perbuatan Melawan Hukum yang diatur dalam pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,” pungkas Eko.

Ada dua kerugian yang dialami oleh Belly yang diterangkan dalam isi surat gugatan PMH tersebut.

Pertama, Kerugian Materiil yaitu biaya jasa-jasa Advokasi / Honorarium Advokat yang belum diselesaikan oleh Butje dengan total Rp 300 juta, terdiri dari operasional biaya transportasi, Honorarium perkara Gugatan PMH No.428/Pdt.G/2019/PN.Sby, dan sukses fee perkara yang telah Belly kerjakan.

Kedua, kerugian Imateriil Rp. 10 Milyar. Ada 2 dasar yang melatarbelakangi adanya kerugian Imateriil yakni Adanya kegelisahan dan keresahan, serta rasa capai atas pekerjaan yang sia-sia tanpa hasil karena perkara di cabut kembali, dan penderitaan spikis yang dialami Belly antara lain tidak bisa beristirahat dengan nyaman setelah kejadian itu.

Perlu diketahui, Perseteruan antara pengacara dan mantan kliennya, seperti dikutip di beberapa media beberapa waktu lalu, pengacara dari Butje menyatakan bahwa Belly telah jadi tersangka atas Penggelapan SHM milik Butje dan uang dari hasil penjualan tanah.

Pernyataan ini di bantah oleh pihak Belly melalui penasehat hukumnya bahwa SHM milik Butje masih ada lengkap dan utuh di kantor hukum Belly, tidak diserahkan karena kuatir SHM tidak sampai ke Butje, karena Butje tidak mengambil langsung SHM tersebut, hanya menyuruh pihak lain yang tidak bisa menunjukan surat kuasa.

Penasehat hukum dari Belly juga menjelaskan bahwa uang DP penjualan rumah milik Butje sebesar Rp 500 juta, dari notaris yang diberikan kepada Belly adalah untuk biaya operasional penanganan 10 perkara Butje yang dikuasakan ke Belly. Dan itu diketahui oleh semua pihak,¬† dan Butje meminjam uang operasional itu sebesar Rp 200 juta untuk berobat istrinya di Singapura. Pihak Belly telah mentransfer uang itu kepada Butje ke rekening [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *