Perkara Pencabulan, Oknum Pendeta Hanny Layantara di Vonis 10 Tahun Penjara, Pengacara Terdakwa Banding

Perkara Pencabulan, Oknum Pendeta Hanny Layantara di Vonis 10 Tahun Penjara, Pengacara Terdakwa Banding

Sindikat Post, Surabaya – Sidang perkara pencabulan dengan terdakwa oknum Pendeta Hanny Layantara (HL) dengan agenda pembacaan tuntutan (Vonis) digelar di Pengadilan Negeri Surabaya. Senin (21/9/2020)

Dalam persidangan yang terbuka untuk umum, oknum Pendeta HL yang hadir secara virtual dinyatakan bersalah telah melakukan pencabulan secara berkelanjutan terhadap jemaatnya.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Hanny Layantara terbukti secara sah dah meyakinkan melakukan tindak pidana perbuatan pencabulan berlanjut sebagai mana dakwaan Jaksa. Menjatuhkan pidana penjara selama 10 tahun,” kata Hakim Johanis.

Dari penjelasan hakim, HL dinyatakan bersalah karena semua unsur dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sabetania Paembonan terbukti. Majelis Hakim berpendapat, dari vonis tersebut mempertimbangkan juga hal yang memberatkan dan meringankan.

Hal yang memberatkan adalah, terdakwa berbelit-belit, terdakwa seorang pendeta, dan terdakwa seorang tokoh keagamaan yang seharusnya menjadi contoh masyarakat, sedangkan hal yang meringankan terdakwa belum pernah dihukum.

Seusai sidang, Kuasa Hukum terdakwa, Abdurrachman Saleh berpendapat, ia tidak sependapat dengan apa yang disampaikan majelis hakim.

“Kita akan lakukan upaya banding, hakim hanya mempertimbangkan keterangan saksi korban, tanpa melihat pembelaan kita,” ungkapnya.

Vonis 10 tahun penjara yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim hari ini, sama dengan tuntutan JPU pada sidang yang lalu. Yakni tuntutan 10 tahun penjara.

Perlu diketahui, HL dilaporkan oleh IW melakukan pencabulan terhadap dirinya sejak tahun 2005. Pelaporan tersebut diterima Polda Jatim dengan mengeluarkan Surat Laporan Nomor: LPB/ 155/ II/ 2020/UM/ SPKT, tertanggal 20 Februari 2020.

Dan dari keterangan hakim Johanis, terkuaknya tindakan pencabulan itu ketika IW yang hendak menikah tidak mau diberkati oleh terdakwa, dan setelah didesak keluarga, baru IW menceritakan kejadian terhadapnya.

IW tidak menceritakan dari awal terjadinya pencabulan karena takut akan ancaman terdakwa. “Kamu jangan bilang ke siapa-siapa apalagi orangtuamu. Jika kamu kasih tahu maka saya hancur, dan kedua orangtuamu juga akan hancur,” ungkap Johanis sebelum menjatuhkan vonis. @red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *