Bekerja dan Belajar dari Rumah Membangun Kebun Bergizi

Bekerja dan Belajar dari Rumah Membangun Kebun Bergizi

Sindikat Post, Jakarta – Dalam suasana pandemi Covid-19, serangan Virus Corona yang belum juga reda, semua orang, termasuk anak-anak dan remaja yang biasanya pagi-pagi buta sudah ribut berangkat sekolah, dewasa ini tetap tinggal di rumah.

Bagi yang beragama Islam, setelah sholat subuh dan berdandan siap sekolah, anak-anak sarapan dan merapikan diri untuk berangkat sekolah.

Akan tetapi, dewasa ini sekolah ada di rumah, anak-anak mulai pegang telepon mendengarkan instruksi guru dari rumahnya dan siap mencermati petunjuk atau pekerjaan rumah yang di berikan guru.

Alangkah baik sekali kalau rutinitas itu diubah, pelajaran paling pagi bagi anak-anak SD, SMP dan SMA, oleh para guru dimulai dengan mengajak anak-anak keluar rumah dan mulai meneliti dan menikmati halaman rumah dengan jemur badan memakai singlet atau telanjang dada membersihkan halaman, kiri kanan dan belakang rumah, kalau sudah rutin, ganti pegang arit dan pacul mulai membabat rumput dan alang-alang.

Anak-anak di ajak membersihkan rumput halaman, samping atau belakang rumah. Sesudah itu mengambil pacul dan mulai mengerjakan halaman, belakang dan samping rumahnya menjadikan seluruh lapangan itu siap sebagai lahan tanam yang baik. Anak-anak diajak mengumpulkan daun-daun kering dan diolah menjadi pupuk Organik.

Melalui pelajaran pagi diajarkan membuat pupuk Organik yang berasal dari sampah. Bagi sekolah yang belum paham bagaimana mengolah sampah menjadi pupuk Organik bisa belajar dari Perpustakaan Desa. Apabila belum ada Perpustakaan Desa, para guru bisa mengakses Perpustakaan Nasional yang menyediakan aneka cara membuat pupuk Organik dari bahan sampah atau kotoran sapi, kambing, ayam atau lainnya.

Bahan-bahan itu melimpah dan mudah sekali di akses melalui Komputer di sekolah. Pelajaran kepada anak didik bisa di mulai dengan membersihkan sampah di halaman rumah dan sekitar, mengumpulkan sampah untuk diolah menjadi pupuk Organik. Akibatnya halaman di sekitar rumah bertambah bersih dan tingkat kesehatan lingkungan menjadi lebih terjamin.

Kalau perlu pembuatan pupuk Organik itu dijadikan bahan lomba antar anak sekolah. Hasilnya dijual kepada khalayak ramai untuk bekal sekolah, membeli hp yang lebih canggih atau membeli pulsa agar lebih rajin mengikuti pelajaran dan mengakses informasi tambahan yang melimpah di dunia maya.

Para guru dan Kepala Sekolah bisa menghimbau orang tua dan kakek nenek dari para siswa untuk membantu dan solider dengan anak-anak dan cucu-cucunya ikut berkebun sehingga suasana di pagi hari cerah karena berjemur bersama dengan ceria di pagi hari.

Para guru bisa menjadikan pembuatan Kebun Bergizi, pupuk Organik, dan kemudian cara memelihara Kebun, cara memetik tanaman, waktu menanam yang tidak sama sehingga bisa panen sayur setiap hari, cara pemasaran dan lainnya sebagai seri pelajaran bertahap sehingga menghasilkan suatu Kampung halaman menjadi Desa Berkebun Bergizi yang makmur dan sebagai pusat dari produsen sayuran, buah-buahan atau hasil olahan Kebun yang sangat dahsyat. Semoga. @red (Prof. Haryono Suyono).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *