Kaper BKKBN Jatim, Sukaryo Teguh Santoso: Tunda Kehamilan di Masa Pandemi

Kaper BKKBN Jatim, Sukaryo Teguh Santoso: Tunda Kehamilan di Masa Pandemi
Ket: Drs Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd. (baju batik).

Sindikat Post, Surabaya – Kepala Perwakilan (Kaper) Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur, Drs Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd., melakukan siaran langsung di TV One, Kamis (27/8/2020) pukul 15.00 Wib, di kantor BKKBN Jatim Jalan Airlangga nomor 31-32 Surabaya, Jawa Timur

Dalam siaran itu, pak Teguh sapaan akrab Kaper BKKBN Provinsi Jawa Timur, menjelaskan tentang  menurunnya peserta KB (Drop Out Peserta KB) dan Kewaspadaan kehamilan di masa Pandemi Covid 19

“Selama pandemi berlangsung sampai saat ini, fenomena Drop Out Peserta KB, meningkat dari bulan ke bulan. Pada bulan Februari Drop Out Peserta KB dari 1,13% dari total peserta KB yang ada, dan naik terus saat ini pada akhir bulan Juli 10,46%. Jadi saya pikir ini harus Kita waspadai bersama. jangan sampai Drop Out peserta KB ini larinya bisa jadi nanti ada kehamilan yang tidak diinginkan, tentu saja kita tidak mau seperti itu,” ungkap pak Teguh.

Drop Out peserta KB adalah peserta yang menggunakan salah satu metode kontrasepsi untuk pasangan subur yang menunda serta mengatur kehamilannya. Dan kemudian tidak menggunakan lagi salah satu metode kontrasepsi.

Ada beberapa kemungkinan penyebab Drop Out peserta KB bisa terjadi, pertama karena tidak mendapatkan pelayanan KB ulangan sehingga tidak ber-KB. Kedua pasangan cerai, ketiga sudah tidak masa usia subur.

“Umumnya tidak mendapatkan pelayanan KB, karena di saat pandemi aktivitas keluarga sangat dibatasi, tidak boleh keluar rumah, jika tidak urusan urgent, termasuk didalamnya faskes-faskes mendapatkan pelayanan KB. Pada saat pasangan usia subur ingin mendapatkan pembinaan dan pelayanan KB jadi tidak mendapatkan pelayanan KB dengan baik karena situasi seperti itu,” ungkap pak Teguh.

Terkait meningkatnya angka kehamilan di Jawa Timur, pak Teguh menjelaskan bahwa trendnya meningkat,

“Saya catat datanya bulan Februari, prosentase kehamilan 2,84 % dari total pasangan usia subur kurang lebih 7,8 juta di Jawa Timur, dan naik saat ini dibulan Juli 2,9% dimana jumlah totalnya kurang lebih 227.074 PUS (Pasangan Usia Subur) yang hamil. Jadi memang trend nya meningkat,” jelas pak Teguh.

Tentang informasi bahwa ada 45 ibu hamil yang terpapar Covid 19, pak Teguh menjelaskan bahwa beliau belum mendapatkan informasi pastinya.

“Sebenarnya saya belum mendapatkan informasi seperti itu, hanya di media seperti itu, namun upaya yang kita lakukan dalam situasi pandemi, bagi yang belum hamil, sebaiknya jangan hamil dulu. Karena hamil dimasa pandemi ini sangat berisiko. Namun demikian, bukan berarti tidak boleh hamil, boleh hamil asal memang betul-betul keluarga itu mempunyai perencanaaan yang baik,” tambahnya.

“Kemudian bagi yang sudah hamil, harus menjaga secara ekstra, menjaga kesehatan ibunya, termasuk juga janin yang di kandungnya dengan baik. Karena bagaimanapun juga pemenuhan gizi, kondisi psikologi seorang ibu yang sedang mengandung itu menjadi penting karena akan berpengaruh terhadap janin, dan juga janin harus terpenuhi nutrisi sehingga proses melahirkan bisa lancar dan bayinya sehat, ibunya juga tidak ada gangguan kesehatan,” tambahnya.

Pak Teguh kesempatan itu juga menjelaskan pada masa pandemi, hamil sangat beresiko. “Karena biasanya pada usia hamil trimester pertama, awal-awal 3 bulan pertama, kondisi ibu sangat lemah. Perlu mendapat perhatian secara khusus, artinya extra jangan sampai menimbulkan penyakit yang ditimbulkan virus Corona,” ungkapnya.

Didalam masa pandemi, jajaran BKKBN Jatim bersama seluruh tenaga lapangan yang ada di desa-desa, di kampung-kampung yang berkolaborasi dengan UPT-KB yang ada di Kabupaten dan Kota melakukan kampanye sosialisasi edukasi kepada masyarakat tentang jaga diri dari virus Corona serta menunda kehamilan.

Sosialisasi dan Edukasi kepada masyarakat, yang Pertama adalah mematuhi protokol kesehatan dengan komitmen menjaga keluarga, jaga diri dengan baik, dari penyebaran virus Corona.

Kedua, cegah Putus pakai KB, yang sudah pakai KB dipertahankan, dan untuk menjaga itu datang ke klinik-klinik faskes yang ada untuk mendapatkan pelayanan KB bulanan, atau pelayanan KB baru. “Jadi Tunda dulu kehamilan sampai pandemi ini berakhir,” pungkas pak Teguh. @red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *