BKKBN dan PWRI Mantabkan Kerja Sama Membangun Lansia dan Anak Cucu yang Sejahtera

BKKBN dan PWRI Mantabkan Kerja Sama Membangun Lansia dan Anak Cucu yang Sejahtera

Sindikat Post, Jakarta – Ketua Umum Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Prof. Dr. Haryono Suyono, didampingi beberapa pengurus antara lain, Dr. Moch. Sudarmadi, Dr. Mazwar Nurdin, dan Dr. Mulyono Dani Prawiro, yang dulu sebelum tahun 2000 adalah orang BKKBN, diterima Kepala Badan Kependudukan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Dr.(HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) yang dampingi Deputy Dr. Dani Dwi Lestyawardani, dikantor BKKBN pusat, Jakarta. Senin (3/8/2020).

Kedatangan Prof. Dr. Haryono Suyono beserta rombongan bertujuan untuk mengucapkan selamat atas anugerah Doktor Honoris Causa yang diterima oleh Dr. dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K) dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) hari Sabtu yang lalu di Yogyakarta.

Prof. Dr. Haryono Suyono beserta rombongan menyatakan rasa bangga bahwa dr. Hasto Wardoyo, utamanya di masa muda sebagai dokter Puskesmas dan banyak berkecimpung dalam program KB, akhirnya mendapat kepercayaan sebagai Bupati yang berhasil di Kulon Progo dan kemudian di percaya sebagai Kepala BKKBN Pusat.

Semasa Hasto Wardoyo menjabat sebagai Bupati keempat, beliau memegang jabatan penting dalam Yayasan Damandiri yang didirikan oleh para pejabat BKKBN dan berbagai instansi lain bersama Bapak HM Soeharto yang utamanya mendampingi keluarga peserta KB dalam pemberdayaan menuju keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.

Seperti diketahui Yayasan Damandiri bersama banyak Perguruan Tinggi, antara lain Universitas Gajah Mada, UST, PGRI dan lainnya selalu diajak dan didampingi menyelenggarakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), menyegarkan budaya gotong royong di kalangan keluarga di desa-desa di Kulon Progo, mengadakan berbagai pelatihan dan usaha pemberdayaan keluarga, dan membentuk Posdaya di desa-desa di semua kecamatan.

Para mahasiswa membantu masyarakat desa dengan upaya pelatihan pemberdayaan, produksi berbagai produk laku jual dari bahan lokal, serta kegiatan gotong royong lainnya. Kegiatan di desa itu selalu mendapat perhatian Bupati dan pejabat Pemda lainnya, dan akhirnya Bupati yang cerdas itu mengembangkannya menjadi berbagai program operasional yang sangat berhasil.

Sementara itu, bapak Hasto Wardoyo mendapat penghargaan dari upaya pemberdayaan tersebut yang memicu pengembangan kemandirian dari upaya yang sistematis, sehingga kemajuan demi kemajuan di capai oleh masyarakatnya dan mengantar Bupati memasuki masa jabatan yang kedua itu di tarik ke Jakarta dengan jabatan terhormat sebagai Kepala BKKBN yang agak mundur, karena pendekatannya kurang melanjutkan keberhasilan di masa lalu.

Setelah keempatnya mengucapkan rasa hormat, syukur dan selamat atas anugerah Doktor kehormatan untuk Bapak Hasto Wardoyo, pembicaraan yang hangat dilanjutkan dengan mengetengahkan beberapa usulan agar para pensiunan pegawai Negeri yang tergabung dalam PWRI, dan pensiunan pegawai BKKBN yang tergabung dalam perkumpulan “Juang Kencana” yang bergabung dalam PWRI, diberi kesempatan menyumbangkan tenaga, ikut melanjutkan gerakan KB yang berhasil membudayakan norma keluarga kecil, dan memperoleh penghargaan PBB pada tahun 1969, dilanjutkan membangun keluarga Indonesia menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera seperti di cita-citakan sejak dibentuknya BKKBN pada tahun 1970. 

Ketua Umum PWRI yang sebelumnya sebagai Kepala BKKBN pernah mebantu Presiden HM Soeharto mengentaskan kemiskinan berdasar Inpres Keluarga Sejahtera bersama Ketua Bappenas dengan Inpres Desa Tertinggal, merasa sangat gembira bahwa Kepala BKKBN sempat melihat pendataan Keluarga di Madiun yang telah di konversi ke hp untuk “road map” atau jalur pentahapan.

Diharapkan agar BKKBN menggunakan “road map” itu untuk mengupayakan pengentasan kemiskinan atas dasar keluarga parasejahtera menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera secara paripurna. Haryono juga sangat menghargai keputusan Kepala BKKBN untuk mengembangkan dan mengubah nama “kampung KB” bukan lagi kampung keluarga Berencana dengan tekanan kontraseptif, tetapi menjadi “kampung Keluarga Berkualitas”.

Semoga “kampung KB” tidak lagi menjadi target BKKBN, tetapi “kampung Keluarga Berkualitas” adalah target yang harus segera terwujud. Kita kembangkan kampung yang keluarganya berkualitas, dua anak cukup, laki perempuan sama saja!

Setelah pembicaraan panjang lebar penuh kekeluargaan kedua pihak menyepakati beberapa program yang segera akan dimulai bulan Agustus 2020 oleh jajaran PWRI yang beranggotakan lebih dari 5.000.000 pensiunan pegawai negeri yang tersebar di seluruh Indonesia bersama BKKBN dan jajarannya yang juga tersebar di seluruh pelosok bersama petugas lapangan KB yang militan.

Untuk itu MOU yang telah ditanda tangani di masa lalu, akan disegarkan dengan perincian program yang lebih nyata dan dapat di dilaksanakan sebagai rasa cinta kasih dan kepedulian para lansia terhadap anggota keluarga tiga atau empat generasi, anak, cucu dan cicit yang ada dalam masyarakat luas.

Untuk itu pertemuan hari ini akan segera di tindak lanjuti sehingga diharapkan pada bulan Agustus nanti akan dilakukan penyegaran MOU antara Kepala BKKBN Pusat dengan Ketua Umum PB PWRI sehingga dalam pertemuan antara seluruh anggota PWRI pada bulan September atau Oktober beberapa program sudah bisa berjalan lancar di seluruh jajaran PWRI di seluruh Indonesia.

Untuk itu, pada bulan Agustus 2020 akan dimulai Webinar melalui berbagai Media Sosial  sebagai upaya agar seluruh jajaran PWRI, PJK dan berbagai organisasi pensiunan dari banyak Kementerian, dan BUMN membantu upaya BKKBN melayani pemberdayaan dan pembinaan penduduk lanjut usia, baik pensiunan atau penduduk lansia yang melimpah jumlahnya di desa dan di kampung di kota di seluruh Indonesia.

PWRI dan BKKBN akan menjalin kerja sama dengan Perpustakaan Nasional yang telah dirintis dengan pembicaraan awal antara Ketua Umum PWRI dengan Kepala Perpustakaan Nasional untuk menjadikan sekitar 5900 Pusat Informasi yang ada di setiap kecamatan, dan akan dikembangkan menjadi sekitar 7000 kecamatan di seluruh Indonesia, sebagai pusat gerakan sadar literasi dengan melengkapi buku-buku dan akses bahan bacaan melalui hubungan internet dari jaringan Perpustakaan Nasional dengan Perpustakaan Desa di seluruh Indonesia .

Kerja sama Jaringan Webinar dan Perpustakaan Kecamatan dan Desa itu mendorong pengembangan dan pembinaan jarak jauh para lansia yang mengajak masyarakat desa membangun Kebun Bergizi di halaman rumah, Usaha Kecil dalam bidang industri rumah tangga dan perdagangan serta kemungkinan pengembangan wisata desa, seni dan budaya dengan memanfaatkan bahan bacaan yang akan tersedia melimpah di Desa.

Melalui kombinasi Gerakan KKN mahasiswa kegiatan ini bisa menjadi peluang yang besar untuk ikut membantu pembangunan desa, masyarakat dan keluarga desa.

PWRI bekerja sama dengan jajaran BKKBN akan menggerakkan anggota PWRI di desa untuk cinta dan sayang pada cucu dan cicit, sehingga siap menemani para orang tua balita membawa anak balita ke Posyandu dan PAUD untuk ditimbang dan mendapat penanganan para petugas Posyandu dan ikut kegiatan dalam PAUD.

Posyandu dan PAUD yang banyak dibangun dengan Dana Desa akan dikembangkan menjadi Pos Keluarga Sejahtera (Poskesra) yang melayani keluarga muda, pasangan usia subur, juga keluarga lansia dalam kapasitas sebagai Sanggar Lansia Sejahtera tingkat desa atau dukuh sesuai kebutuhan dan perkembangannya. 

Segala sesuatu yang dibicarakan tersebut merupakan penyegaran dari berbagai kegiatan yang makin ditegaskan dan akan dibahas secara tuntas dengan Direktur Lansia BKKBN dan aparat lain di BKKBN.

Dalam lingkungan PWRI akan menjadi bahan pertemuan tingkat nasional dan regional di daerah agar menjadi program kegiatan operasional sehingga Jajaran PWRI sebagai pejuang yang memiliki moto “berjuang sampai titik darah penghabisan” memiliki kegiatan yang mendukung penduduk lansia yang berusia panjang tetap berguna untuk masyarakat luas. @red (hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *