Memperkenalkan Budaya Nasional untuk Membangun Kesan Global

Memperkenalkan Budaya Nasional untuk Membangun Kesan Global

Sindikat Post, Jakarta – Dalam rangkaian Penutupan Internasional Workshop on Population and Family Planning yang diselenggarakan oleh Universitas Chicogo di Amerika Serikat pada akhir Musim Summer di tahun 1972, sekaligus menjelang kepulangan kami ke Indonesia, maka bersama Ibu dr. Ida Sukaman (sekarang sudah almarhum), pada waktu itu adalah Sekretaris BKKBN yang baru dibentuk tahun 1970 di Indonesia, dan kebetulan menjadi salah satu peserta Workshop Internasional tersebut, kami selaku Co-Director yang ditunjuk oleh Guru Besar tersayang kami, Prof. Dr. Donal Bogue (sekarang sudah almarhum), harus menyelenggarakan Acara Penutupan Workshop Internasional tersebut.

Seperti biasa, acara penutupan dilakukan dengan makan bersama dan acara hiburan santai bersama sekitar 200 peserta dari hampir 100 negara dan para dosen nara sumber internasional. Sebagai Co-Director kami menata acara penutupan dan atas persetujuan Direktur, Dosen dan Sekretariat Penyelenggara, kami akan sajikan acara tarian Janoko – Cakil suatu tarian Jawa dengan gending dari tape dan penari yang diambil dari peserta yang datang dari Indonesia.

Acara itu disetujui sehingga satu minggu kami sibuk mempersiapkan diri dan mengontak Kedutaan RI di Washington meminjam pakaian Wayang dan tape gamelan pengiringnya. Karena tidak tahu panjang pendek gendingnya, maka awalnya kami berdua, kami sebagai Buta Cakil dan Ibu Sugeng Supari (juga sudah almarhum) berlatih mati-matian untuk menggelar tarian secara lengkap. 

Di tengah jalan Ibu Sugeng merasa kurang yakin dan mengundurkan diri, digantikan oleh Ibu Ida dr. Sukaman sebagai sukarelawan. Alhamdulillah, waktu kaset gamelan datang, ternyata iringan gamelan hanya tujuh menit, sehingga Ibu Ida merasa nyaman, karena hanya akan menari selama tujuh menit, yang ternyata gamelan mengisyaratkan bagian yang sangat dramatis hampir mencapai akhir dari perang tanding antara Janoko dan Buta Cakil.

Setelah kaset datang dan iringan gamelan hanya tujuh menit, akhirnya kita lakukan persiapan yang sungguh-sungguh karena tarian hanya mengambil bagian yang sangat agresip menjelang akhir Buta menarik keris dan akan menusuk Janoko dengan kerisnya.

Dalam latihan yang relatif terbuka maka rencana fragmen menjadi sangat populer, apalagi dimuat dalam undangan “Acara Dinner” yang kebetulan bersamaan dengan ulang tahun ke sepuluh dari Acara Workshop Internasional yang bersifat tahunan tersebut.

Para Pimpinan Lembaga Donor dari Washington, Ibu Kota Amerika diundang, para Dosen dan Nara Sumber lengkap, sehingga “Acara Malam Penutupan” itu sungguh sangat membesarkan hati.

Akhirnya Hari H itu datang juga, dan betul saja, para peserta tidak melihat Co-Directornya dan Pimpinan Team dari Indonesia di antara tamu VIP karena sudah sejak sore dandan sebagai Buto Cakil dan Janoko di belakang panggung. Tidak seperti di Indonesia, Acara dibuka dengan sambutan singkat Direktur Latihan Prof. Dr. Donald Bogue dan dilanjutkan dengan Acara Tunggal Tarian dan diakhiri dengan makan bersama.

Setelah acara Pidato sepuluh tahun Pelatihan Internasional dan harapan Prof. Dr. Donald Bogue yang bersemangat, maka layar panggung dibuka dengan iringan bunyi gamelan pembuka yang menggetarkan hati, barangkali tidak bagi peserta dunia, tetapi bagi Janoko dan buta Cakil agak gemetar juga melihat para penonton internasional duduk manis di kursi masing-masing menunggu fraqmen tarian legendaris yang sangat sakral tersebut,

Di belakang layar di tugasi dokter Tan dari Karang Anyar sebagai sutradara membantu dua penari internasional dari Indonesia tersebut sambil memukul aba-aba seakan kepraknya untuk aba-aba awalan bagi “ke dua penari profesional” tersebut.

Begitu bunyi gamelan pembuka selesai, maka dr. Tan mulai memukul aba-aba seakan seorang “dalang akan memulai acaranya”. Begitu pukulan aba-aba berbunyi, maka gamelan resmi mulai mendengung mengiringi tari Buto Cakil Janoko tersebut. Tanpa di sangka-sangka, dengan penuh percaya diri, Kedua penari keluar panggung diiringi tepuk tangan gegap gempita tidak menyangka Co-Director yang biasa mengedarkan absen dan memanggil peserta satu demi satu, malam itu tampil beda mempesona.

Menit demi menit berjalan sangat cepat dan kedua penari menunjukkan atraksi yang sangat menarik. Satu dua mendekat ke panggung dan mengambil foto. Karena tidak dilarang, satu dua yang mengambil foto bertambah banyak dan akhirnya di depan panggung penuh “juru foto amatir” yang praktis menutup panggung.

Ada akibat yang agak serius karena “dalang dr Tan” amatiran, maka keprak dan aba2 melalui kepraknya menjadi tidak lancar sehingga Buto Cakil sebenarnya ingin mengikuti gamelan untuk mengatur irama tariannya menggoda Janoko yang melambai-lambaikan tangannya memainkan sampur untuk menahan serangan Buto Cakil yang mengundang juru foto dengan gemerlap cahaya lampu blitz menyilaukan mata, sekaligus menutup panggung dan menghalangi suara gamelan yang keluar dari speaker di muka panggung.

Buto Cakil hampir kehilangan akal, dalang yang menjadi kagum atas sambutan penonton dan gamelan yang nyaris tidak terdengar lagi bagi telinga Buto Cakil membuat Sang Buto hampir kehilangan akal. Langsung mau menusuk mati Janoko, tetapi dr Tan tidak rela, beliau tidak tahu mencegah dengan Kepraknya, tetapi langsung berteriak berulang-ulang, “durung durung, satu putaran lagi!”, artinya belum waktunya, satu putaran lagi. Alhamdulillah, Buto Cakil berputar lagi menggoda Janoko berputar lagi dan akhirnya keris ditusukan langsung disambut Janoko di balikkan ke Buto Cakil yang tersungkur jatuh di panggung diiringi tepuk tangan gegap gempita dan jepretan kamera berkilauan.

Tarian tujuh menit berakhir dengan sukses, penari turun panggung disalami oleh Direktur dan dielu-elukan dengan sinar foto yang sangat menyilaukan mata. Hati ini berbunga-bunga. Tim Indonesia menjadi bahan percakapan sejak malam itu sampai para peserta kembali ke negara masing-masing negaranya.

Setiap kali ada kunjungan ke Indonesia dan bertemu dengan pejabat senior, atau dalam Pertemuan Internasional, nama Haryono Suyono atau ibu Ida Sukaman menjadi bahan pertanyaan bagi mereka yang pernah ikut Worshop di Amerika. Suatu investasi Budaya yang mengantar memori dan penghargaan yang tinggi terhadap peran dan perjuangan bangsa Indonesia dalam Program Kependudukan dan KB Dunia. Alhamdulillah YRA.  

Penulis : Prof Haryono Suyono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *