Mengenang Perjuangan Bersama Para Ulama Ubah Budaya Banyak Anak Jadi 2 Anak Cukup

Mengenang Perjuangan Bersama Para Ulama Ubah Budaya Banyak Anak Jadi 2 Anak Cukup

Sindikat Post, Jakarta – Dalam konteks pengembangan program KB sejak awal, Presiden HM Soeharto memberi petunjuk bahwa pelaksanaan program KB adalah awal dari pembangunan keluarga bahagia, dan sejahtera yang  dilanjutkan dengan membangun kekuatan budaya bangsa, dan kekuatan ekonomi yang menopang seluruh keluarga dan anak bangsanya.

Oleh karena itu, pembangunan tahap awal itu harus dilaksanakan dengan berhasil dan dalam waktu cepat. Oleh karena itu, para pelaksana diminta mengajak sebanyak mungkin sahabat untuk melaksanakan program ini secara gotong royong agar tercapai cita-cita dengan cepat, mulus dan berakhir dengan rasa sejuk dan lestari.

Pembangunan itu merupakan perubahan sosial dari berbudaya banyak anak menjadi suatu masyarakat dengan dua anak cukup laki perempuan sama saja tidak terjadi secara otomatis, tetapi dilakukan dengan perencanaan dan langkah-langkah operasional yang terencana dengan rapi, dan dilakukan dengan dukungan sahabat yang setiap kali di tambah hampir tanpa batas.

Suatu program yang dilandasi suatu filosofi yang agung dan dipimpin oleh seorang Presiden dengan komitmen yang sangat tinggi, bersahabat dan diniatkan membangun sahabat tanpa batas, guna memberi dukungan niat luhur untuk kepentingan bangsa yang sangat tinggi dan lestari sepanjang jaman.

Untuk itu diajak dan diminta para sesepuh bangsa, utamanya alim ulama membantu kelancaran pelaksanaan operasional dari gagasan yang kelihatan sangat sederhana, tetapi sesungguhnya sangat rumit karena menyangkut tata nilai budaya keluarga dan pada akhirnya melekat sebagai budaya bangsa yang didukung segala perangkat fisik dan non fisik.

Secara operasional permintaan itu harus dilakukan dengan sopan, karena yang dibawakan bukan ajaran agama dengan membaca kitab suci, tetapi praktek dari ajaran dalam wujud nyata dan sering berbeda tafsir dari satu dengan lainnya.

Secara hati-hati pejabat senior ditugaskan bertemu dan memohon bantuan para sesepuh agama seperti Kyai Bisri Samsuri (almarhum) sesepuh yang sangat berpengaruh. Pertemuan yang akrab d kediaman beliau menghasilkan penghargaan dan komitmen dari beliau dan jajarannya untuk memberikan bantuan dan nasehat kepada para petugas di lapangan.

Kalau perlu para santri senior binaan beliau dikerahkan memberi bantuan untuk kegiatan di lapangan. Bahkan kalau perlu membekali bantuan tentang dalil-dalil agama kepada para pembicara di lapangan agar bobot materi ceramah makin tinggi nilainya.

Lebih dari itu, di masa tahun 1980-1990 tidak kurang dari Gus Dur sebagai Ketua Umum NU, begitu juga Bapak Moh Amin yang sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden RI adalah tokoh-tokoh pejuang KB yang gigih memberikan ceramah berjam-jam pada forum kampanye KB

Bahkan ada kampanye KB khusus di gelar dengan nama “Kampanye KB Bintang Sembilan” karena logo NU sebagai pendukung kampanye itu memiliki Bintang Sembilan. Dengan cara demikian maka gerakan KB berusaha menjadi milik dan kesayangan masyarakat luas.

BKKBN masih sangat ingat kepada perjuangan dari Kyai Sahal, tidak saja di tanah air tetapi beliau ikut serta dalam Konperensi Kependudukan Dunia di Cairo serta sempat memberi petunjuk kepada Presiden Mesir Husni Mubarrak tentang Hukum Sunat untuk kaum Wanita kepada beliau. 

Disamping itu, bersama rombongan Delegasi Indonesia yang dipimpin Haryono Suyono bertemu juga bertemu dengan Pimpinan Universitas Al Ashar lengkap dengan dosen seniornya.

Gerakan KB di masa itu juga tidak segan berkunjung dan mengadakan pertemuan khusus kepada Pesantren yang memiliki santri generasi muda untuk diajak mempelajari masalah reproduksi, sehingga andaikan mereka kembali ke desanya sudah makin memahami masalah KB dan bisa berbagi kepada anak muda lain di desanya, sekaligus memohon dukungan dari Pimpinan Pondok yang pengaruhnya kepada masyarakat setempat sangat tinggi.

Kita juga menggelar kampanye secara khusus melalui mahasiswa di mana antara lain Prof. Dr. Mufidah berkeliling dari satu UIN ke UIN lainnya di seluruh Indonesia membangun Posdaya dengan berbagai kegiatan yang disambut para Rekor, dosen senior, Dosen dan mahasiswa melalui KKN ke berbagai desa  guna membantu pemberdayaan keluarga menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera lahir dan batin. 

Tidak jarang kerja sama dengan para ulama di kaitkan dengan program lain yang tujuannya menyelamatkan keluarga, misalnya di padukan dengan program Gizi, program penanggulangan HIV AIDS dan program pemberdayaan keluarga lainnya.

Prinsipnya adalah bahwa program KB ada di mana-mana dan di mana-mana ada program KB. Dengan cara demikian upaya menjelaskan program KB kepada msyarakat berhasil dan penurunan tingkat kelahiran dengan mulus dilaksanakan keluarga Indonesia. @red

Penulis :Prof Haryono Suyono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *