Anak Muda Tidak Boleh Putus Asa

Anak Muda Tidak Boleh Putus Asa

Penulis : Prof Haryono Suyono

 

Sindikat Post, Jakarta – Catatan ini merupakan potongan-potongan menarik dari hidup yang penuh perjuangan selama 28 tahun, maaf, selama hampir 82 tahun, untuk memperbaiki kemampuan diri sendiri sehingga memiliki kredibilitas yang memadai sebagai bekal perjuangan untuk membangun keluarga, dan masyarakat Indonesia dan mengantarkannya berjuang membangun Negara dan bangsa yang sangat kita cintai.

Cerita dipotong singkat dan ditulis untuk memberi bekal semangat kepada generasi muda dalam perjuangan menempuh pendidikan setinggi-tingginya, disertai dengan usaha di tempat kuliah selama masa pendidikan, guna secara sistematis membangun jaringan keakraban yang luas dengan teman sejawat, dan berbagai kalangan dengan harapan bahwa jaringan itu bermanfaat untuk bisa membantu, dan sebagai pendukung kerja cerdas, dan keras dalam pengabdian kepada Nusa dan Bangsa tempat kita mengabdi melalui karya nyata yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, tuntas dan ikhlas.

Potongan kali ini dimulai setelah seorang Haryono Suyono lulus dari Akademi Ilmu Statistik di Jakarta pada tahun 1963, yang mulai tahun 1965, berkat keberhasilan dalam membantu seorang ahli PBB, Dr. KGC. Nair, untuk Sensus Industri di Indonesia pada tahun 1964 degan sukses, Haryono Suyono BSt mendapat penghargaan dikirim ke Amerika Serikat guna meneruskan study untuk mendapatkan gelar Akademis Master dalam bidang Statistik, pada Universitas Michigan di An Arbor, USA.

Ujian masuk dan Bahasa Inggris lulus dengan baik. Surat penerimaan dan kesanggupan bimbingan dari Guru Besar calon penasehat Akademis dan sebagainya, termasuk bea siswa dari PBB telah disepakati. Namun pada akhir tahun 1965 Indonesia dinyatakan oleh Bung Karno menolak bantuan Amerika dengan motto “Go to hell with your Aid”. Akibatnya permintaan visa ke Kedutaan Amerika di tolak. 

Pada tahun 1965, sebagai Kepala Kanwil BPS di Jakarta, sekaligus sebagai statistisi yang rajin menulis artikel di surat kabar, Haryono Suyono diminta membantu Gubernur Ali Sadikin mengembangkan Proyek KB DKI Jakarta sampai sempat menulis dan mendampingi Gubernur Pidato pada Konperensi Kependudukan Asia di Jakarta pada tahun 1967. Jasa menulis dan mendampingi Gubernur Ali Sadikin itu dianggap luar biasa sehingga memperoleh rekomendasi untuk beasiswa ke Amerika, tetapi tidak lagi ke Michigan tetapi ke Universitas Chicago pada Acara Program Summer, karena yang ada pada waktu itu, baru kalau baik hasilnya, bisa diteruskan ke program Master, bukan dalam Bidang Statistik tetapi dalam Bidang kependudukan dan Aplikasi Komputer. Maka berangkatlah Haryono Suyono muda itu ke Chicago dengan tekad harus belajar giat dengan hasil baik dan “harus lanjut” ke Program Master.

Selama mengikuti program Summer Haryono bekerja sangat keras dan Guru Besar pembimbingnya heran karena Haryono kecil tidak pernah mengambil libur Sabtu Minggu dan selalu ada di Perpustakaan sehingga nilai Summer Worshop yang diikuti sangat mengagumkan. Kecuali rajin, secara kebetulan pelajaran yang disajikan adalah tentang masalah kependudukan dan KB yang sudah pernah dipelajari pada Akademi Ilmu Statistik, ilmu komunikasi yang sudah pernah dijalani karena menjabat sebagai Kepala Humas BPS dan Ilmu Komunikasi sederhana yang sering di kerjakan di BPS dalam kegiatan Sensus Industri 1964 di seluruh Indonesia. 

Berkat hasil gemilang itu, otomatis Haryono mendapat rekomendasi kuat melanjutkan program Master dalam bidang Kependudukan dan Aplikasi komputer. Karena kesempatan itu, istri, Ibu Astuty Haryono menyusul sehingga Haryono tidak perlu sibuk masak di Apartemennya, tetapi belajar dengan sangat tekun dan waktunya dihabiskan di Perpustakaan yang sangat indah dan nyaman di Kampus mewah dan lengkap di Chicago itu.

Sejak masuk dalam program Master, Haryono Suyono yang berasal dari Asia dianggap Guru Besarnya sebagai mahasiswa yang pengetahuan statistiknya sangat menonjol. Kemudian Haryono jujur memberi tahu bahwa selama tiga tahun sudah belajar statistik dari dosen yang kebanyakan Tenaga Ahli PBB pada Kantor BPS di Jakarta. Karena itu Guru Besar Pembimbingnya langsung mengangkat Haryono sebagai Asisten Statistik membantu mahasiswa dari Jepang dan Korea Selatan yang sedang kuliah Ilmu Statistik dari Universitas Chicago.

Pada kesempatan itu Haryono mulai dekat pada beberapa dosen yang memberi kuliah Statistik, Matematik dan Metode Penelitian pada Program Master dan Doktor di Universitas Chicago. Keakraban itu banyak membantu karena diperoleh petunjuk yang sangat berharga bagaimana cara belajar yang baik agar study untuk Master dan Doktor bisa diselesaikan dengan hasil bagus dan waktu yang cepat.

Benar saja Program Master bisa selesai dalam waktu sembilan bulan, sehingga perlu segera mendapat ijazah langsung dengan gelar MA, tetapi menurut perjanjian dengan sponsor, bila mendapat gelar dan ijazah MA harus kembali ke Jakarta. Guru Besar pendamping Akademis tidak rela dan bersikukuh Haryono harus terus untuk program Doktor, masalah beasiswa kalau tidak dilanjutkan dari Jakarta akan diganti beasiswa dari Universitas Chicago. Alasannya jelas, pada waktu itu jarang mahasiswa Asia memiliki kemampuan yang relatif unggul dalam Ilmu Statistik pada Universitas Chicago yang biasanya pelit itu.

Sambil menunggu kepastian beasiswa Haryono langsung mendaftar dan mengikuti kuliah Program Doktor pada Universitas Chicago melalui kesempatan seperti di gagas Mendikbud yang baru, Nadiem Makarim. Kampus Merdeka!. @red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *