Motif Pelaku Pembunuhan Petemon Surabaya Diungkap Polisi

Motif Pelaku Pembunuhan Petemon Surabaya Diungkap Polisi

Sindikat Post, Surabaya – Motif pelaku pembunuhan di Jalan Petemon Barat No.3 Surabaya, Kamis 30 Januari 2020 Jam 12.30 WIB, akhirnya diungkap polisi. Pelaku Abdus Salam (42), warga Jalan Indrapura Jaya JKA Gang I Surabaya, berhasil ditangkap anggota unit Jatanras Polrestabes Surabaya, di Desa Kodak, Kecamatam Torjun, Sampang Madura, sekira jam 22.30 WIB.

“Pelaku mengaku kecewa dan sakit hati pada korban Mardiana (45), karena membatalkan proses rujuk nikah siri dengan pelaku,” ujar Kasat Reskrim AKBP Sudamiran, saat gelar ungkap kasus di Polrestabes Surabaya, Jum’at (31/1/2020).

Menurut Sudamiran, kasus ini bermula saat pelaku yang merupakan mantan suami sirinya, mendatangi rumah korban pada Kamis (30/1/ 2020) sekira pukul 10.00 WIB.

“Di rumah korban, keduanya sempat melakukan hubungan suami istri. Setelah itu, korban menagih janji kepada pelaku untuk melakukan rujuk nikah, pada awal bulan Januari 2020. Namun karena saat itu pelaku belum mempunyai uang untuk biaya Modin, korban marah kepada pelaku,” tambahnya.

“Untuk menghindari perselisihan, sebenarnya pelaku bermaksud meninggalkan rumah korban. Namun korban yang sudah marah, justru mengembalikan surat keterangan nikah sambil berkata ‘ini bawa aja pulang ga usah rujuk, batal,” ungkapnya.

Cek-cok pun tak terhindarkan. Setelah keduanya terlibat saling dorong, pelaku yang emosi mengambil pisau yang terletak di dalam tampah di samping korban dan langsung mengarahkan pisau tersebut ke arah tubuh korban sebanyak 3 kali.

“Korban sempat berteriak minta tolong. Namun karena kehabisan darah, akhirnya meninggal dunia. Sementara pelaku kabur dari lokasi menggunakan angkutan umum dan akhirnya berhasil kami amankan di Madura,” pungkas Sudamiran.

Pelaku kini terancam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, yang ancaman hukuman penjara seumur hidup atau 20 tahun. Subsidair Pasal 338 KUHP dan atau Pasal 351 ayat (3) KUHP, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 7 tahun. @juju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *