Pengembangan Ekonomi Islam Berbasis Syariah

Pengembangan Ekonomi Islam Berbasis Syariah

Sindikat Post, Jakarta – Dengan keputusan Pimpinan tujuh Yayasan yang didirikan oleh Almarhum Bapak HM Soeharto yang dicanangkan oleh Ibu Titiek Soeharto pada Rapat Koordinasi tujuh Yayasan minggu lau, dan keputusan tujuh Yayasan itu menunjuk Prof. Dr. Haryono Suyono selaku Ketua Koordinator, Subagyo SH., selaku Wakil Ketua dan Dr. Ir. Arisetyanto Nugroho, MM., selaku Skretaris, maka Tim segera bergerak cepat.

Setelah Rapat Koordinasi usai, segera diadakan Rapat penyamaan Rencana kerja awal antara Pimpinan Tujuh Yayasan membahas Rancangan awal dan langkah-langkah yang akan ditempuh oleh Tim Koordinator. Setelah itu Ketua Koordinator segera menghubungi Rektor Universitas Trilogi, Prof. Mudrajad PhD di kantornya, guna mengadakan langkah-langkah awal dengan berbagai Perguruan Tinggi yang selama ini menjadi sahabat dalam pengembangan program yang banyak berhubungan dengan kegiatan Yayasan, utamanya dalam pengembangan Posdaya di masa lalu. Dengan Prof. Mudrajad juga dibicarakan kesediaan beliau untuk menggelar suatu Seminar tentang Ekonomi Pancasila serta sekaligus kesediaan beliau untuk menjadi salah satu pembicara utamanya.

Bahkan dibicarakan juga kenyataan bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, akhir-akhir ini banyak membicarakan usaha pengembangan ekonomi Islam yang mencoba memasukkan paradigma yang dalam Ilmu Ekonomi, masuk dalam analisis positif dan normatif, halal dan haram, benar dan salah, adil dan tidak adil.

Menurut Prof Mudayad Kuncoro, kerangka Islam  memasukkan unsur nilai kedalam analisis ekonomi. Karena itu ada baiknya dilakukan juga pembahasan dan kemungkinan pengembangan Ekonomi Islam, yang berbasis Syariah sebagai pendekatan komprehensif tentang etika bisnis, perilaku konsumen, orientasi bisnis yang mencoba mengembangkan kepentingan dunia dan akhirat. bagi masyarakat muslim, tidak hanya mempraktekkan rukun islam dan iman namun bagaimana mempraktekkan ajaran islam dalam konteks ekonomi dan bisnis.

Paradigma ekonomi islam yang sistemik bisa menjadi kontributor yang signifikan bagi kemajuan ekonomi bangsa Indonesia. Prof. Dr. Haryono Suyono yang selalu merangkul semua komponen pembangunan yang positif dan sejalan mendukung pengembangan kerja sama gotong royong saling menguntungkan itu, menyambut baik gagasan Rektor yang dianggap dinamis karena menghargai mayoritas masyarakat yang sama sama tetap mencintai dasar Negara Pancasila tersebut.

Pada saat yang sama segera dihubungai Ketua Sekolah Tinggi STIKES Mitra  RIA Husada di Cibubur, Dr. Sri Danti Anwar, untuk maksud yang sama dalam rangka mempersiapkan Sekolah Tinggi yang diprakarsai oleh Ibu Tien Soeharto guna memenuhi, utamanya, kebutuhan bidan di Indonesia itu, untuk ikut serta secara aktif dalam mengisi acara Ulang Tahun KemerdekaanRI ke 75 tahun.

Secara spontan ibu Ketua Dr. Denti Anwar menyambut baik ajakan tersebut dan segera akan mempersiapkan dosen dan jajaran mahasiswa menyusun acara-acara yang menempatkan Perguruan Tinggi yang menghasilkan bidan berkualitas itu makin dekat dengan rakyat sesuai cita-cita pendirinya Ibu Tien soharto almarhum.

Dengan senang hati beliau menyatakan kesediaannya dan akan mengatur dengan jajarannya segela persiapan yang diperlukan agar segera disusun acara yang membawa manfaat dan sukses. Terbayang untuk sementara bahwa bahwa dalam acara kunjungan ke desa-desa, melihat banyak sekali Posyandu yang dibangun pemerintah dengan Dana Desa, Sekolah Tinggi ini bisa berkolaborasi dengan para Bupati melengkapi Posyandu tersebut dengan tenaga bidan yang dididik dan mengikuti kuliah pada Perguruan Tinggi yang berpengalaman dalam menghasilkan bidan bemutu dengan mahasiswa yang berassal dari desa sehingga setelah lulus bisa kembali ke desanya dengan tenang.

Selesai berbincang dengan Rektor Trilogi, Haryono Suyono langsung mengundang Koordinator Program Radio DFM dan Bagian Pemasaran, Drs. Hari Setyawanto dan Dra. Yeni Heryani untuk makan siang sederhana di Mall Kalibata sambil membahas peran Radio DFm yang didirikan oleh almarhum Ibu Tien Soeharto.

Seperti diketahui Radio DFm pernah bangkrut dan oleh pengelolanya diserahkan kepada Pak Haryono selaku pribadi yang kebetulan Ketua Yayasan Damdiri. Karena  pendirinya Ibu Tien Soeharto, maka diputuskan Radio itu dibantu dihidupkan kembali oleh Yayasan Damandiri dengan suntikan dana dan ditugasi menyiarkan pengembangan kegiatan Posdaya dari seluruh Indonesia. Akhirnya Radio itu makin banyak pengemarnya, termasuk pendengar “streaming” dari berbagai Perguruan Tinggi pelaksanan KKN ke Desa membnertuk Posdaya dan masyarakat Desa pengelola Posdaya yang selalu di einterview life melalui Radio DFm.

Setiap minggu sekitar tiga kali dalam satu munggu dilakukan wawancara life bersama Pengurus KKN dan Pimpinan Posdaya dari desa. Masyarakat desa senang sekali karena “kegiatannya masuk Radio Nasional”  yang membuat para anggota Posdaya bangga dan melanjutkan pengemgbangan Posdaya di desa dengan bersemangat dan makin marak. Karena kebanggaan itu kemajuan desa dan masyarakat makin dapat lebih terpacu lagi.

Pada waktu pak Harto masih sugeng, beliau sangat menghargai prakarsa tersebut. Konon peran itu tidak dilanjutkan lagi, tetapi untung, dewasa ini Radio DFm mengambil tema Dan Dut yang sangat di sukai oleh masyarakat di tingkat akar rumput.

Kepada kedua pejabat itu diminta untuk membahas dengan Pimpinannya agar Radio DFm bisa berperan ikut menyongsong Peringatan Kemerdekaan RI yang ke 75 dengan acara-acara bersama tujuh Yayasan lain serta mendekati masyarakat desa dengan siaran langsung yang bisa di dengar melalui sistem streaming serta isi acaranya dikembangkan lebih lanjut melalui Media Sosial yang makin luas cakupannya di seluruh Indonesia. Keduanya akan membahas dengan Pimpinan Radio DFm dalam waktu dekat. Semoga Radio yang dibentuk oleh ibu Tien Soeharto itu akan berpartisipasi secara aktif. Amin. @red (hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *