Mengembalikan Kemerdekaan Pers Pada Titahnya “Pers Perjuangan dan Pers Perlawanan”

Mengembalikan Kemerdekaan Pers Pada Titahnya “Pers Perjuangan dan Pers Perlawanan”

Sindikat Post, Surabaya – Banyak yang salah jalan tetapi merasa tenang, karena banyak teman yang sama sama salah jalan. “Beranilah menjadi benar walau segelintir orang.”

Sepatutnya kita berjuang untuk meneruskan dan meluruskan kemerdekaan Pers, dengan intuisi yang sama yaitu Roh bobot kejiwaannya, bukan sekedar ueforia saja, karena dikuatirkan ada penumpang gelap yang memanfaatkan perjuangan ini. Apalagi diduga fokus menari nari dipanggung orang lain dan bernyanyi nyanyi diatas penderitaan orang lain.

Seharusnya kita PRIHATIN atas korban wartawan M. Yusuf bukan cari PERHATIAN, kita fokus terhadap apa dan bagaimana perjuangan itu secara konseptual, konstruktif, dan elegan. Hal ini dibutuhkan langkah langkah cerdas dengan mengkanalisasi zona zona pergerakan dengan berbagai kemampuan, yang pada akhirnya bermuara pada titik centrum yaitu mengembalikan kemerdekaan pers pada titahnya, PERS PERJUANGAN dan PERS PERLAWANAN.

Perjuangan terhadap hak asasi manusia yang telah diberikan oleh sang pencipta, dan perlawan terhadap ketidak adilan, kebodohan dan kemiskinan, itulah wajah pers Indonesia dalam perjalanan pers nasional, baik pra kemerdekaan hingga berhasil merebut tirani kekuasaan kolonial penjajah.

Perjalanan politik bangsa ini telah menjadi bergeser, lagi lagi pers bungkam menjadi tuna daya, baik dimasa Orde Lama (Orla) dan diperparah lagi pada masa Orde Baru (Orba), pers sudah terkooptasi system kekuasaan sehingga negara menjadi aktor dominasi. Faktor determinan dengan memonopoli kebenaran dengan dalih stabilitas negara.

Pers, seniman, ahli fikir mengkritik diangap propokatif, sesat dan tidak waras alias tidak memilki akal sehat. Karena yang dianggap memiliki akal sehat hanya militeristik sebagai bentuk pengejawantahan dari sapto pandito ratu yang mulia, yakni presiden Soeharto pada saat itu.

Akumulasi umat pers meledak, beriring persaman nasib rakyat yang ingin adanya perubahan yaitu reformasi. Majelis Pers lahir dari rahim reformasi, yang melahirkan Dewan Pers independen, sesuai amanah UU no 40 thn 1999, yang dilegalisasi DPR sebagai buah pemikiran para pejuang pers reformis yang telah merumuskan RUU Pers, reformasi bertujuan untuk mengembalikan akal sehat dari segala bentuk tirani kekuasaan streotape seperti sajarah pers masa masa sebelumnya.

Dalam tulisan ini, saya tidak bernostalgia apalagi romantisme, setidaknya menjadi bahan renungan dan agar tidak melupakan sejarah.

Sumber : Ozzy Sulaiman Sekjen Majelis Pers (MP). Selasa 17 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *