M. Isa Ansori : Kado Pahit Surabaya di Hari Ultahnya yang Ke 752 “Kembalikan Rumah Radio Bung Tomo”

M. Isa Ansori : Kado Pahit Surabaya di Hari Ultahnya yang Ke 752 “Kembalikan Rumah Radio Bung Tomo”

Sindikat Post, Surabaya – Bulan Mei adalah identik dengan Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, terjadinya Gerakan Reformasi 1998, serta bagi Surabaya Mei identik dengan Hari Jadi Kota Surabaya. Mei 2018, suasananya sangat berbeda dengan Mei – Mei sebelumnya. Surabaya begitu gemerlap dengan berbagai festival dan perayaan hari jadinya. Pawai bunga, festival – festival pemanis hari jadi berlangsung tak henti, memberi warna pesona cantiknya Surabaya.

Mei 2018, nampaknya merupakan Tahun Kesedihan dan Kepedihan, betapa tidak, ditengah Surabaya mempersiapkan festival rujak ulegnya setelah pawai bunga sebagai rangkaian hari ulang tahunnya, sebuah kado pahit diterima oleh Surabaya, 13 Mei 2018, pagi pukul 07.35 serentetan ledakan bom meledak di berbagai tempat peribadatan umat Kristiani, setelah itu esoknya juga menyasar Mapolrestabes Surabaya. Korban pilu berjatuhan dari mereka yang tak berdosa, bahkan berkembang berita dugaan pelaku distigmakan pada kelompok agama tertentu. Berita liar dan tak tahu dari mana sumbernya, semakin memperkeruh suasana Surabaya di hari kelahirannya, kerukunan umat beragama menjadi terkoyak, dan semakin mengangah peri ketika dibumbui dengan penyedap yang tak jelas kebenarannya.

Tak banyak yang bisa menahan diri untuk bisa bersikap bijak, sehingga semakin menambah pedihnya Surabaya memerah luka, Surabayaku semakin berduka diusianya yang semakin renta. Potret laku pemilik amanah tak juga mencipta suasana redah, semakin mencipta amarah dan luka. Satu hal yang layak diapresiasi dari apa yang dilakukan oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, Walikota yang konon katanya terbaik dunia, menghentikan persiapan festival rujak uleg, meski persiapan kegiatan itu sudah 100% siap. Kado pahit berdampak kepada para peserta festival, yang menurut saya sudah siap 100% juga untuk berlaga dan menghibur di perhelatan festival tersebut. Layak diapresiasi juga kebesaran sikap mereka yang memaklumi pembatalan acara tersebut.

Kembalikan Rumah Radio Bung Tomo

Ket : Rumah Juang Radio Bung Tomo yang sekarang tinggal puing puing

Kado pahit lainnya adalah ditolaknya gugatan perdata Komunitas Bambu Runcing Surabaya ( KBRS) berkaitan dengan tuntutan pengembalian Rumah Radio Bung Tomo, Jalan Mawar 10 Surabaya. Semakin lengkaplah kado pahit Surabaya di hari ulang tahunnya.

Rumah Radio Bung Tomo, Jalan Mawar 10, setidaknya mempunyai arti penting bagi Surabaya, melalui rumah radio itulah Bung Tomo Mengobarkan semangat arek arek Suroboyo melawan tentara sekutu yang diboncengi oleh tentara Gurca. Sekutu terberai dan akhirnya bertekuk lutut ditangan arek arek Suroboyo yang hanya bersenjatakan bambu runcing. Bahkan tercatat sebagai perang terdahsyat dan pilu bagi Inggris, karena dua orang jendralnya terbunuh.

Kepada Walikota Surabaya, tentu saya yakin beliau memahami itu, sehingga sudah sepatutnya Walikota Surabaya bersama masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Bambu Runcing Surabaya bisa saling bersama merebut kembali Rumah itu yang sudah dikuasai oleh Jayanata.

Saya yakin tak sulit bagi Walikota Surabaya untuk melakukannya, sebagaimana Walikota begitu berjibakunya merespon korban teror bom di Surabaya. Saya yakin juga bahwa Walikota mengetahui bahwa Rumah Radio Bung Tomo, Jalan Mawar 10 adalah rumah yang mempunyai arti penting bagi kota Surabaya, sehingga Surabaya disebut sebagai kota Pahlawan.

Saya secara pribadi tentu tak akan pernah berputus asa dan berhenti untuk selalu bergerak berupaya mengembalikan rumah radio Bung Tomo kepangkuan pemerintah Kota Surabaya dan bisa dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kepentingan warga, tentu saya punya cara bagaimana melakukannya. Bagi saya merebut kembali tak bisa dilakukan dengan cara – cara sederhana, butuh cara yang luar biasa dan bersinergi dengan siapapun yang yang berniat sama.

“Kembalikan Rumah Radio Bung Tomo” adalah jargon yang diusung oleh Komunitas Bambu Runcing Surabaya dalam aksi – aksinya mengingatkan pemerintah kota Surabaya. Nah sudah saatnya menepis anggapan bahwa sayalah yang paling bisa dan paling peduli, sudah saatnya membangun kekuatan bersama tanpa saling melemahkan dan mencurigai. Memang dibutuhkan kebesaran jiwa, saya yakin sahabat sahabat saya masih punya kebesaran jiwa itu. Sejarah juga telah menjadi saksi perjuangan, mereka yang paling merasa bisa akan terlindas oleh kekuatan bersinergi.

Nah, dihari menjelang perhelatan ulang tahun Surabaya, 31 Mei 2018 ini, saya berharap kerja dan terus kerja merebut kembali rumah radio bung tomo diperlebar kepada semua pihak, termasuk didalamnya adalah pemerintah kota Surabaya. Kepada sahabat – sahabat saya di DPRD Surabaya dan Pemerintah Kota Surabaya marilah berjibaku bersama rakyat Surabaya, merebut kembali rumah radio Bung Tomo. Saya yakin anda bersama pemerintah kota bisa melakukannya apalagi dukungan dari kami rakyat Surabaya.

Akhirnya kepada Ibu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, kami berharap beri kami kado indah sebagai warga Surabaya dengan mengembalikan Rumah Radio Bung Tomo kepangkuanmu, kelak sejarah akan mencatat anda sebagai walikota yang peduli terhadap nilai nilai cagar budaya dan nasionalisme.

Selamat Ulang Tahun Surabaya, Semoga di usiamu yang semakin senja, kau semakin dekat rakyatmu.

Surabaya, 29 Mei 2018

Salam Surabaya ” Kembalikan Rumah Radio Bung Tomo ”

M. Isa Ansori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *