Aksi Solidaritas Jurnalis Di Polrestabes Surabaya “Jangan Kriminalisasi Jurnalis”

Aksi Solidaritas Jurnalis Di Polrestabes Surabaya “Jangan Kriminalisasi Jurnalis”

 

Sindikatpost, Surabaya – Para wartawan berbagai media di Jawa Timur dan didukung Organisasi Pers Sindikat Wartawan Indonesia (SWI) serta dikawal Ormas Laskar Merah Putih Markas Surabaya melakukan aksi solidaritas, Konfirmasi dan Klarifikasi secara serempak dan serentak ke Polrestabes Surabaya (19/2), terkait proses penyidikan dari Polsek Simokerto yang menaikan status Wartawan media Berita TKP, Syamsul Arifin menjadi tersangka berjalan tertib dan lancar.

Wartawan yang tergabung dalam Aksi Solidaritas melakukan konfirmasi secara serempak dan serentak  terhadap jajaran Penyidik Polsek Simokerto, bahwasanya Syamsul yang menjadi korban malah menjadi tersangka dalam penyidikan, diduga  terjadi banyak penyimpangan dalam KUHAP (Kitab Uundang Hukum Acara Pidana).

Aksi Solidaritas di ikuti lebih dari 100 wartawan sempat tidak diperbolehkan masuk oleh Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar. “Jangan masuk semua, cukup perwakilan saja” ujar Lily didepan portal masuk Polrestabes Surabaya.

Permintaan Humas Polrestabes Surabaya Kompol Lily tidak diterima para wartawan. Para wartawan tetap mau masuk dan menemui Kapolres untuk klarifikasi tentang kasus yang menimpa wartawan Syamsul.

“Kami disini bukan demo, kami disini melakukan tugas jurnalis, kami para wartawan mau konfirmasi dan klarifikasi kepada Kapolres tentang kasus menimpa saudara kami sesama jurnalis, wartawan dan polisi adalah mitra, kenapa polisi tidak memperkenankan kami masuk, apakah polisi tidak lagi menghargai mitranya” tutur Agus, ketua aksi dengan lantang.

Sekitar 30 menit para wartawan berdialog dengan pihak kepolisian  dan menerangkan tujuan aksi solidaritas adalah melakukan tugas jurnalis untuk konfirmasi dan klarifikasi tentang kasus wartawan Syamsul dan setelah para wartawan berdiskusi, dan mengambil sikap bersama bahwa jika Polrestabes Surabaya tidak memperkenankan masuk, aksi akan digeser ke Polda Jatim, baru para wartawan diperkenankan masuk.

“Kami disini para jurnalis, melaksanakan tugas jurnalis melakukan konfirmasi, jika tidak diperkenankan masuk berarti pihak Polrestabes telah melanggar UU No.40 Tahun 1999 Tentang Pers, menghalang halangi wartawan melakukan tugasnya, kita tunggu 15 menit, jika tidak diperkenankan masuk, aksi akan digeser ke Polda Jatim”, ujar Agus ketua aksi solidaritas Jurnalis dan juga Kepala Bidang Aksi Jurnalis Sindikat Wartawan Indonesia.

Berselang 30 menit para wartawan di persilahkan masuk dengan di temui Kasat Intel Polrestabes Surabaya AKBP Beni Pramono di dampingi Humas Polrestabes Surabaya Kompol Lili Djafar, Kapolsek Simokerto Kompol Masdawati dan Kanitreskrim Polsek Simokerto Iptu Suwono, Kanit Jatanras Polrestabes Kompol Agung dan Kanit Propam Polrestabes  Kompol Kuncoro.

Kapolsek Simokerto Kompol Masdawati Saragih memberikan keterangan kepada para wartawan  bahwa pihak Polsek melalui tahapan – tahapan yang sesuai prosedur “Kami sudah gelar perkara dan sudah melakukan pengembangan terkait status tersangka yang mana saudara Syamsul ketika di periksa di dampingi oleh kuasa hukumnya”, jelas Masdawati.

Kasat Intelkam Polrestabes Surabaya AKBP Beni Pramono meminta supaya rekan – rekan jurnalis menyampaikan harapannya untuk mencari titik temu permasalahan dan agar Surabaya kondusif dengan bersinergi bersama media, dan harapan para wartawan akan di sampaikan ke pemimpin dalam hal ini adalah Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi.

“Silahkan teman – teman media menyampaikan maksud kedatangan nanti akan kita sampaikan kepada pimpinan, di sini ada beberapa Kanit, juga sudah mengetahui permasalahan terkait perkembangan kasus ini, dan di harapkan supaya ada titik temu agar kasus ini secepatnya selesai,’’ ujar Beni.

Ada 4 point yang di sampaikan peserta aksi solidaritas Jurnalis.

Pertama, para wartawan meminta klarifikasi atas penyidikan dari pelaporan Syamsul kepada Wong Che Siu yang menjadi tersangka, semula dengan jeratan pasal 170 Kuhp tentang pengeroyokan berubah menjadi pasal 351 Kuhp tentang pemukulan.

Kedua, meminta status Syamsul Arifin sebagai tersangka di hentikan sementara.

ketiga, meminta kasus ini di lakukan gelar perkara secara terbuka.

Keempat, agar penyidik di ganti dan di limpahkan kasus ini ke Polrestabes Surabaya.

Sementara itu, Kuasa hukum BeritaTKP Eko Santoso.SH mengatakan, “Bahwa dalam hal perkembangan kasus ini penyidik tidak bisa menunjukkan minimal dua alat bukti yang menjadikan Syamsul sebagai tersangka, dengan menunjukkan berita acara pemeriksaan sebagai tersangka, pada saat berselang tiga hari setelah kejadian saya mendatangi Polsek Simokerto dengan klien saya, untuk meminta segera melakukan olah TKP guna untuk mengamankan barang bukti berupa CCTV yang ada di kafe Santoso, namun di jawab oleh Kanitreskrim Polsek Simokerto bahwa Penyidik sedang luar kota”. terang Eko.

Setelah aksi Solidaritas Jurnalis, para wartawan akan menunggu kabar dari Polrestabes Surabaya, kapan akan dilakukan gelar perkara secara terbuka seperti janji dari Kasat intelkam Polrestabes Surabaya. @red (team)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *