ADVOKAT : Antara Profesi dan Penegak Hukum

ADVOKAT : Antara Profesi dan Penegak Hukum

Ket: DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D

Sindikatpost, “Ah, bayar pengacara (advokat) itu mahal” , demikianlah kalimat yg sering terdengar diantara hiruk pikuk masyarakat yang tengah mengalami persoalan hukum. Bahkan, tidak jarang terbesit citra negatif terhadap advokat. Hal-hal tersebut tidaklah tanpa alasan.

Ketika saya ingin merumuskan pengertian advokat, ada rasa dilematis yang bergejolak. Dilematis antara idealisme dan realisme yang berpelukan mesra ditemani oleh waktu.

Bagi kaum idealisme, advokat adalah penegak hukum, dengan semangat fiat yustitia ruat caelum, berpegang pada semangat keadilan, bernilai kan kemanusiaan.

Bagi kaum realisme, advokat adalah profesi, pilihan real utk mengeruk pundi-pundi rupiah dan aset, hingga bias makna kepada menghalalkan segala cara demi kemenangan semu.

Idealisme dan realisme advokat bergelut dengan waktu, bernafaskan logika dan rasionalisme.

Walau, bagi kaum idealisme advokat, tidak sedikit yang berkelimpahan pundi pundi rupiah sebagai hasil atau akibat. Namun bagi kaum realisme advokat, pundi-pundi rupiah adalah tujuan akhir profesi advokat.

Ironis, bagi kaum realisme advokat, tidak sedikit yang mengejar pundi pundi rupiah malah hidup dengan keprihatinan yang akut.

Akhirnya, sependapat dengan Imanuel Kant, hati nurani (moral) yg akan menjadi panglima terakhir bagi para advokat bergumul antara profesi dan penegak hukum.

Serpong, 27-01-2018

  • Penulis : DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *