Ruang Kuliah Prof. Dr. Haryono Suyono Akan Diresmikan di Adi Buana Surabaya

Ruang Kuliah Prof. Dr. Haryono Suyono Akan Diresmikan di Adi Buana Surabaya

Sindikat Post, Surabaya – Ketua Tim Pakar Kementerian Desa PDTT Prof Dr Haryono Suyono didampingi Sekjen DNIKS Edwil Djamaoeddin dan Dosen Pasca Sarjana Universitas Satyagama Dr Mulyono D Prawiro, setelah malam sebelumnya menyelenggarakan acara “TVRI Show Semanggi” bersama Kepala BKKBN Provinsi Jawa Timur Yenrizal Makmur dengan stafnya, hari Rabu pagi menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya Dr Djoko Adi Waluyo di dampingi Ketua Yayasan, Prof Setijono, para Wakil Rektor, beberapa Dekan dan Dosen Senior.

Hadir juga Yudha dari Kementerian Desa PDTT dan Vera dari Lembaga Disabilitas di Surabaya. Pertemuan itu berlangsung santai di halaman di depan Rektorat yang disulap menjadi “Warung Kopi” Mahasiswa dan Dosen, konon mahasiswa yang mengelola bisa dapat korting uang kuliah dan belajar wira usaha sekaligus.

Warung di halaman Kampus Universitas PGRI Adi Buana, Jl. Dukuh Menanggal XII, Surabaya, Jawa Timur itu ternyata menyulut semangat wirausaha dari Perguruan Tinggi yang didirikan atas prakarsa para guru yang bergabung dalam PGRI yang ternyata berkembang sangat maju.

Atas perkenan Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Ketua Yayasan, Prof. Dr. Setijono MM, ruangan atau gedung ruang kuliah dan laoraratorium untuk kulaih para mahasiswa penyandang disabilitas yang dilengkapi dengan berbagai peralatan untuk melakukan kuliah, praktek dan contoh-conto pemberdayaan penyandang berbagai macam disabilitas di kawasan kampus Universitas PGRI Adi Buana itu akan konon diberi nama Ruangan Prof Dr Haryono Suyono.

Sungguh sangat menarik karena jalan menuju ke ruangan ini sudah di atur begitu rupa sehingga penyandang disabilitas, khususnya tuna netra bisa membaca tanda-tanda di “lorong” menuju ke ruangan melalui injakan kakinya, biarpun seperti jalan di kota modern di negara maju, biapun pejalan kaki itu tidak bisa melihat, sehingga seorang tuna netra tidak akan kesasar menuju ruang kuliah lain. Seseorang yang tidak bisa membaca melalui kakinya, bisa juga membaca melalui tangannya karena sepanjang jalan menuju ruang kuliah bisa meraba melalui tangannya di pinggiran tembok yang dilengkapi dengan pegangan menuju ruang kuliah dengan tepat.

Di dalam ruang kuliah telah dilengkapi dengan meja, kursi dan segala peralatan untuk melatih ketrampilan dan “mencoba mengenal dunia” dengan terampil melalui simu.asi peralatan tersebut. Dosen yang mengasuh kelihatan cantik-cantik dan lebih dari itu, karena kecantikan belum tentu dapat dilihat dan suaranya belum tentu dapat di dengar, yang pasti cara bicara dan cara menyambut tamunya sungguh sangat mempesona sehingga yang dilayani pasti sakan sangat terpikat.

Semua perlengakapan dan sumber daya manusia yang perlu di kloning di banyak daerah dan desa agar saudara kita yang disabilitas mendapat pelayanan yang sama dengan saudara yang sempurna karena kita sama-sama makluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan berhak mendapat perlakukan yang sama. Karena itu, peralatan yang disedikan bagi mahasiswa disabilitas itu, sekaligus bisa dijadikan contoh untuk ruang publik yang diharapkan bisa diterapkan di gedung-gedung dan kantor pemerintah yang melayahi kepentingan publik.

Prof Dr Haryono Suyono yang sangat terharu dan terhormat bahwa Rektor dan Ketua Yayasan menerima pak Haryono dan kawan-kawan itu berprakarsa akan memberi nama ruangan itu dengan nama Haryono Suyono, yang sekaligus menegaskan bahwa Universitas siap melalukan kerja sama dengan Perguruan Tinggi lain di Surabaya untuk mengembangkan Seminar atau kerja dama dengan berbagai Organisasi lain yang bekerja dalam bidang sosial seperti BK3S, bahkan dengan Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga Dinas – Dinas Sosial Kabupaten/Kota akan dihimbau untuk mengirimkan petugasnya mendapatkan pelatihan penanganan penyandang disabilitas di Kampus yang maju tersebut.

Karena itu dalam waktu singkat sebagai Pembina DNIKS, bersama Ketua Umum dan Sekjen, kesediaan ini akan segera diaporkan kepada Gubernur Jawa Timur, Wakil Gubernur maupun Menteri Sosial di Jakarta. Siapa tahu Menteri Sosial bisa menetapkan kesediaan berbagai Perguruan Tinggi di Jawa Timur ini sebagai model untuk diterapkan bagi penanganan disabilitas di berbagai Provinsi di Indonesia, tidak saja melalui pendekatan panti tetapi dengan tenaga yang profesional hasil pendidikan dan lulusan Perguruan Tinggi bisa dikembangakan pendekatan kemasyarakatan dengan menjemput bola ke desa-desa di seluruh Indonesia. Demikian harapan Prof. Haryono Suyono yang disambut dengan baik oleh Rektor, Ketua Yayasan dan para Dekan yang mendampingi pertemuan yang sangat akrab dan produktif tersebut.@red (hs)

 

 

291 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!