Peluncuran Buku oleh Rektor IPB, Prof. Dr. Arif Satria, Sp., MSi.

Peluncuran Buku oleh Rektor IPB, Prof. Dr. Arif Satria, Sp., MSi.

Sindikat Post, Bogor – Dalam suasana yang sangat meriah dan ceria, Prof. Dr. Arif Satria meluncurkan buku Politik berjudul “Sumber Daya Alam” di gedung Canvention Center IPB Bogor. Sabtu (7/3/2020).

Tampak hadir dalam acara antara lain, Ketua Bappenas Suharso Monoarta, Kepala BKPM Bahlil Lohadalia, para Menteri jaman pak Harto, Prof. Dr. Haryono Suyono, dan Dr. Subiakto Tjakrawerdaya, dan tampak pula hadir, Walikota dan Bupati Bogor, rektor serta para dosen, pimpinan TNI dan Polisi, para mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi, termasuk mahasiswa IPB, dan sahabat IPB lainnya.

Seperti acara resmi kenegaraan, Acara Peluncuran Buku itu dibuka dengan menyanyikan bersama Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan paparan yang sangat menarik dari Prof. Dr. Arif Satria tentang perjuangannya yang panjang dalam memenuhi cita-citanya menjadi penulis yang terkenal, utamanya karena dorongan pemberian mesin ketik kedua orang tuanya.

Diakuinya setiap kali Arif muda mengirimkan tulisannya ke berbagai media, selalu ditolak dan gagal terbit. Sehingga pada suatu waktu karena dorongan motivasi yang tinggi, ketika terbuka kesempatan, dilakukanlah potong kompas yang cukup bijaksana.

Tatkala beliau di sekolahnya di serahi tugas guru, dan teman-temannya mengurus suatu kegiatan di sekolah, maka dibuatlah “koran dinding”. Sejak itu tulisan Arif muda yang semangatnya tidak pernah luntur itu selalu dimuat. Dan lama kelamaan menjadi sangat baik dan disukai teman-temannya. Barangkali sejak itu Arif makin pandai memilih angle tulisan yang di gemari oleh teman-temannya sebagai pembaca yang setia.

Selanjutnya Prof. Arif Satria menguraikan Buku yang diluncurkannya, Politik Sumber Daya Alam yang diterbitkan dalam kerja sama antara IPB dan Yayasan Obor di Jakarta. Buku tersebut merupakan pengamatan yang sangat mendalam dari Prof. Dr. Satria secara langsung sejak era Presiden SBY sampai era Presiden Jokowi. 

Secara jelas buku itu terlihat sistematis, dimulai pada bab pertama sebagai bab pendahuluan, membahas tentang Politik Lingkungan, yang dikaitkan dengan Pembangunan berkelanjutan, pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), baik dalam bentuk Desentralisasi maupun Resentralisasi, Ekologi Politik Banjir, Eko Spiritualisme, serta Visi Pangan, Energi dan Lingkungan.

Pada bagian bab kedua, hampir memakan 50 halaman, membahas Politik Perikanan pada era Presiden SBY. Bahasan itu dimulai dari Gebrakan Ala Fadel, Catatan Perikanan selama tahun 2005 – 2009, Minapolitan, dan “Minapolitik”. Setahun Kelautan dan Perikanan SBY, serta catatan lain termasuk Politik RAPBN 2011 yang mempertanyakan Infrastruktur untuk siapa dan dibahas juga dalam bagian yang menggelitik : Ada Konflik Kelas di Perikanan.

Pada Bab ketiga, dibahas tentang Politik Pangan yang mengurai bagian-bagian tentang Industri Pengelolaan Ikan, Politik Pajak untuk Pertanian dan Perikanan, Merespon RUU Pangan, Bias-bias Politik Pangan, Memilih Konsumen dan Kesejahteraan Pembudidayaan Ikan.

Pada Bab yang keempat, dibahas Politik Perikanan era Presiden Jokowi yang dimulai dengan Design Baru Desentralisasi Kelautan, Perikanan 2016, Dekontruksi atau Rekonstruksi, Sistem Kuota, “Inka Mina” jilid 2 dan Politik Wisata Bahari.

Pada Bab kelima, sebagai bab terakhir, dibahas Poros Maritim, Akses Nelayan, Melindungi dan Memberdayakan Nelayan, Akses Tehnologi, Cantrang, Eco Fishing Port, Ekologi Politik Investasi Pulau Kecil, Ekologi Politik Natuna, dan Pembentukan Poros Maritim. Dan sebagai penutup Buku Prof. Dr. Arif Satria, membahas Epilog membuat catatan tentang Perubahan Iklim dan Kemiskinan.

Buku yang enak dibaca, membuat buku ini dirasakan bukan hanya untuk para pembaca ahli perikanan saja, tetapi bisa menjadi bacaan para ahli dan penanggung jawab pembangunan bidang lain, agar program-programnya dapat di sinkronkan dengan upaya membantu masyarakat nelayan yang kepala keluarganya berjuang di pinggir laut, atau di laut lepas jauh dari daratan, sehingga keluarga yang di rumah bisa menangkap peluang serta keuntungan yang bisa disumbangkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan.

Sedangkan bagi keluarga anak bangsa Indonesia yang bekerja di bidang pertanian, karena tanah yang makin sempit dan jumlah penduduk tetap bertambah, biarpun Program KB dan Kependudukan berhasil dengan baik, sehingga sejak dua puluh tahun lalu fertilitasnya telah turun menjadi setengahnya dibandingkan keadaan fertilitas yang sangat tinggi pada tahun 1970-an, buku ini cocok untuk dibaca.

Di samping peluncuran Buku Politik Sumber Daya Alam, para tamu mendapat hadiah dua buku lain tulisan Prof. Dr.Arif Satrria berjudul Politik Kelautan dan Perikanan”, serta Buku Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir yang pasti memberi tambahan Ilmu dan Pengertian yang lebih mendalam tentang masyarakat Pesisir, sehingga bisa mengerti dan membantu kebijaksanaan yang kiranya akan diambil, dan dilaksanakan lebih cerdas oleh pemerintah dalam mengantar, dan membantu masyarakat Nelayan yang makin mandiri, membangun untuk kepentingan seluruh anak bangsa yang “katanya” kita itu orang pelaut.

Selamat untuk Prof Arif Satria, yang rupanya “penyanyi ulung” juga. semoga bukunya makin mencerdaskan para pemimpin dalam mengelola kekayaan laut, dan mendorong dukungan yang makin positif dan berhasil. @red (hs)

1,118 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!