Pekon Purajaya, Mengubah Sampah Menjadi Rupiah

Pekon Purajaya, Mengubah Sampah Menjadi Rupiah

Sindikat Post, Lampung – Akhir bulan lalu Ketua Tim Pakar Mendes PDTT Haryono Suyono membaca laporan yang diawali dengan sanjak yang menarik dari Pekon Purajaya tentang usaha penduduk desa mengubah sampah menjadi rupiah untuk modal peningkatan kesejahteraan warga desanya.

Laporan menyatakan bahwa masyarakat Lampung sejatinya mengenal konsep dan upaya menjaga dan melestarikan lingkungan yang bernama Hulu Tulung. Konsep ini pada prinsipnya adalah budaya adat sebagai pedoman menjaga pusat-pusat kehidupan. Secara tata bahasa Hulu berarti Kepala dan Tulung berarti menolong yang dipahami sebagai sumber air tempat seluruh flora dan fauna berkembang biak.

Adat Hulu Tulung merupakan warisan kearifan lokal yang mendorong segenap aparat Pekon Purajaya. Masyarakat yang biasa membuang sampah di sungai diubah melalui perubahan sikap dan tingkah laku, dengan membeli sampah yang mereka himpun secara mandiri. Dengan demikian seluruh elemen Pekon Purajaya bermufakat mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jaya Bersama.

Pendirian BUMDes ini menggunakan alokasi dana desa tahun 2016, diperankan mengelola sampah sekaligus melakukan edukasi kepada masayarakat luas. Selanjutnya seiring berkembangnya kesadaran masyarakat dan semakin banyaknya permintaan pendirian dan pembinaan Tempat Penampungan Sampah (TPS) oleh masyarakat pekon, maka pada tahun 2017 disepakati penambahan penyertaan modal sebesar 130 juta.

Alokasi dana tersebut digunakan untuk memenuhi permintaan pendirian dan pembinaan TPS baru, membeli kendaraan pengangkut sampah dan mesin penghancur sampah plastik, dan pembelian beberapa alat bangunan untuk disewakan kepada masyarakat pekon.

Peratin (Kepala Desa) Purajaya mengisahkan bahwa kondisi hari ini adalah buah dari usaha bersama warganya dalam mengelola sampah. Sampah yang berserak, mengotori sudut-sudut pekon, meracuni aliran-aliran sungai sebagai Hulu Tulung yang dikeramati, setapak mulai hilang.
Kini sungai-sungai kembali asri. Walau tidak sejernih sungai dimasa lalu. Tapi, cukup bahagia ketika melihat anak-anak tidak lagi ragu menanggalkan pakaian sekolahnya, melompat dari ujung bebatuan dan bermain air dengan riang. Mengingatkan orang tua pada masa mudanya.

Masyarakat menyadari bahwa mengelola sampah bukan sekedar menjaga lingkungan, sampah memberikan penghasilan tambahan penghasilan. Hingga kini telah ada 284 TPS milik warga yang tersebar di seluruh wilayah Pekon Purajaya. Seluruh keluarga pemilik TPS memiliki “kebun uangnya” sendiri. Dengan kesepakatan bahwa 20% keuntungan BUMDes setiap tahunnya masuk ke Kas Desa, maka BUMDes Jaya Bersama menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Desa. Dengan keberhasilan itu, BUMDes Jaya Bersama memperluas usahanya. Masyarakat bukan hanya melakukan jual-beli sampah, tapi juga memiliki kesempatan mendapatkan bantuan modal dari usaha simpan pinjam yang dikelola BUMDes. Hidup gotong royong dan dana desa membangun desa dan masyarakatnya bertambah makmur dan damai. @red (hs)

6 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!