Lebih Separuh Desa di Kab.Bantul Punya Bumdes

Lebih Separuh Desa di Kab.Bantul Punya Bumdes

Sindikat Post, Yogyakarta – Dalam suatu kesempatan Dialog Interaktif melalui Televisi RI Yogyakarta, dalam Acara plengkung Gading , bersama Ketua Tim Pakar Menteri Desa PDTT Prof. Dr. Haryono Suyono yang didampingi oleh Ibu Siwi Lungit dari TVRI, Sekda Kabupaten Bantul, Drs. Helmi Jamharis, mewakili Bupati Bantul yang sedang pada acara lainnya, didampingi Kepala Dinas Pembangunan Masyarakat Desa, Ibu Dra Sri Nuryanti, MSi, Plt Kepala BKKBN DI Yogyakarta Ibu Dra Rohdiana Sumiarti, SSos, MSc, dua Kelompok Bumdes dari Panggung Lestari yang dipimpin oleh Ketua Bumdesnya, Eko Pambudi serta kelompok Bumdes Selopamioro yang dipimpin Ketuanya Danang Kumorojati, telah menjelaskan perkembangan Pembangunan Desa dan masyarakat desa di kabupatennya.

Hadir juga wakil-wakil dari Kementrian Desa PDTT Drs. Abdullah Kamil dan Yudha, Dr. Mulyono Daniprawiro dari Yayasan Damandiri di Jakarta, Ibu Dr. Gunarmi dari Sekolah Tenaga Kesehatan dari Kulon Progo serta puluhan mahasiswa Gajar Mada dan para simpatisan Bumdes dari Kabupaten lain di Yogyakarta.

Menanggapi pertanyaan tentang kemajuan pembangunan desa dan masyarakat desa di Kabupaten Bantul, Sekda dengan tangkas menjawab bahwa dengan adanya aliran dana yang tidak terputus selama lima tahun ini kepercayaan rakyat terhadap rencana pengembangan desa dan masyarakatnya bertambah tinggi. Dari tahun ke tahun partisipasi rakyat meningkat tajam sehingga dalam acara Rembug Desa suasana partisipasi bertmabah jelas dan bermutu sehingga program Bumdes sejalan dengan semangat itu berkembang pesat.

Dua Bumdes yang hadir dalam acara Plengkung Gading malam ini, menurut Sekda Drs Helmi usahanya setiap bulan mengalami kenaikan omset dan bidang yang ditangani juga bertambah luas. Beliau memberikan contoh bahwa Bumdes Paanggung Lestari yang semula menangani masalah sampah, dewasa ini telah menangani pengolahan limbah minyak dan usaha lainnya.

Sekda Helmi mengakui bahwa di Kabupaten Bantul dewasa ini lebih separo dari desanya telah memiliki Bumdes dalam kategori yang bervariasi, ada yang pratama, masih relative belum maju, madya sudah lebih maju dan mandiri lebih maju dan telah menghasilkan keuntungan untuk Buimdes maupun sumbangan untuk desa.

Desa yang belum memiliki Bumdes sedang dipacu oleh Tenaga Pendamping Desa maupun pemerintah tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desanya agar segera membentuk Bumdes dengan mengembangkan usaha yang digali dari desa masing-masing. Pemerintah provinsi, Kabupaten dan KKN Mahasiswa setahu Sekda ikut aktif mendorong aktifitas desa dalam pengembangan ekonomi kerakyatan tersebut.

Keterangan Sekda Helmi dibenarkan oleh Ketua Bumdes Panggung Lestari Eko Pambudi bahwa kegiatan Bumdes yang dipimpinnya, semula menangani sampah dari desa dan desa tetangganya kini telah memiliki armada mobil tiga roda yang cukup untuk guna “menjemput sampah” dari tempat pengumpul atau dari rumah tangga langganan. Dari mengolah sampah telah memperluas ke olahan sisa minyak goreng dari keluarga dan rumah makan di sekitar yang diolah menjadi bahan bakar yang menguntungkan. Bahkan di luar dua usaha itu Bumdes yang dipimpinnya punya beberapa usaha lain yang dibutuhkan anggota kelompok dan mendatangkan kemudahan bagi masyarakat umum tetapi juga menguntungkan untuk Bumdes yang mengelolanya, mendatangkan sumbangan untuk desa dan keuntungan riel untuk Bumdes.

Bumdes Selopamioro memiliki usaha industry membuat berbagai makanan yang dikemas secaa modern seakan produk pabrik dan dijual dengan harga terjangkau. Satu bungkus yang rapi berisi keripik Singkong yang menarik tampilannya hanya dijual seharga Rp. 10.000,- saja padahal di toko biasa bisa di banderol sampai Rp. 15.000,- suatu usaha yang menyebabkan nilai jual singkong meningkat dan keuntungannya bisa masuk ke kas Bumdes dan membantu pendapatan desa melalui pengisian kas Desa. Jenis produk yang bervariasi itu menurut Ketua Bumdes yang nampak sederhana, tertapi telah mengubah tampilan produknya seakan buatan pabrik besar, tampil seksi, harga tetap bersaing dengan hasil produk pabrik. 

Kedua Bumdes itu pada umumnya masih menggantungkan diri pada pemasaran terbatas pada lingkungan desa dan kota di sekitar sehingga apabila disentuh dengan pemasran yang lebih luas serta penjualan on line bisa saja menjadi sentra produksi pedesaan dengan pasaran yang jauh lehih luas dan mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi untuk menfperkokoh upaya pengentasan kemiskinan dan mengantar pemberdayaan keluarga menjadi keluarga yang lebih bahagia dan sejahtera. @red (hs)

271 kali dilihat, 12 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!