Konperensi Internasional “the 24th NGO ASEAN Workshop” Membangun Generasi Tangguh Anti Narkoba

Konperensi Internasional “the 24th NGO ASEAN Workshop” Membangun Generasi Tangguh Anti Narkoba

Sindikat Post, Jakarta – Organisasi Anti Penggunaan Narkoba “BERSAMA” yang dipimpin oleh Mayor Jendral Polisi (Purn) Putera Astaman mengadakan Konperensi Internasional “The 24th NGO ASEAN Workshop” Anti Narkoba dan Obat Terlarang pada tanggal 26-29 November 2019 di Jakarta. 

Dalam Pertemuan menarik perhatian sangat luas itu, berdatangan para ahli anti Narkoba dari beberapa Negara Asean, dan para peserta dari Dalam Negeri menyampaikan pengalaman dan resepnya guna mengatasi makin maraknya peredaran dan penggunaan Narkoba oleh generasi muda.

Menurut cerita mantan pengguna Narkoba, mula mula memakai narkoba hanya coba coba karena bisa membawa kenikmatan yang tidak didapat karena konsumsi makanan atau minuman lain yang beredar. Tetapi makin dinikmati maka pengguna Narkoba akan ketagihan dan kepingin mengkonsumsi lagi sehingga akhirnya menjadi kecanduan dan tidak bisa melepaskan diri.

Ket: Prof. Haryono Suyono (kanan)

Narkoba beredar di banyak Negara dalam suatu jaringan yang kuat sehingga biarpun para pengedarnya sering di tangkap dan dipenjarakan, tetapi peredaran tetap berjalan lancar, dan bahkan konon kabarnya bisa dikendalikan dari dalam penjara. Salah satu sebabnya adalah karena perdagangan Narkoba mendatangkan keuntungan jauh lebih besar dibandingkan resiko yang harus ditanggung oleh pengedar. Konon keluarga pengedar di jamin oleh para penguasa jaringan, sehingga resiko yang ditanggung menjadi sangat kecil dan bisa diabaikan.

Selama ini upaya untuk mencegah penggunaan berbagai jenis Narkoba di Indonesia dilakukan oleh aparat pemerintah dengan sangat ketat tetapi peredaran masih tetap tinggi. Selain aparat banyak Organisasi yang peduli terhadap para penderita, memberikan bantuan pemulihan bagi para penderita ketagihan Narkoba tersebut. Banyak yang berhasil tetapi banyak pula korban yang tidak bisa diselamatkan, sehingga pemerintah dan banyak organisasi berusaha keras untuk mencegah dan mengadakan langkah-langkah drastis dengan memberikan hukuman berat kepada para pengedar Narkoba.

Dalam acara Konperensi Internasional itu, Panitia meminta masukan dari Prof. Dr. Haryono Suyono yang dikenal berhasil menggerakkan masyarakat di Indonesia dari penganut budaya keluarga besar menjadi penganut budaya keluarga dengan jumlah anak yang sedikit, dikenal dengan logo “dua anak cukup, laki perempuan sama saja” untuk memberikan petunjuk bagaimana mengubah kegandrungan terhadap Narkoba menjadi budaya tidak suka menggunakan Narkoba.

Haryono Suyono menyatakan bahwa karena pasar Narkoba begitu bagus maka para pengedar Narkoba memiliki dan menggunakan modal yang luar biasa dalam perdagangan Narkoba. Sedangkan dalam kasus KB, keluarga Indonesia yang bertahan dengan norma keluarga besar tidak terkoordinir secara bisnis dan tidak memiliki modal melimpah atau usaha yang luar biasa seperti pedagang Narkoba, sehingga resep yang berlaku untuk menangani program KB belum tentu manjur untuk mencegah penggunaan Narkoba. Tetapi Haryono Suyono yakin bahwa “the other side of the coin” perlu dicoba, yaitu disamping melanjutkan upaya represip dan kontrol ketat dewasa ini, suatu “Kampanye Hidup Sehat Tanpa Narkoba” atau “Healthy Life Without Drugs” perlu digalakkan bukan saja dengan mengembangkan slogan, dan upaya informasi dan edukasi semata, tetapi dengan berbagai langkah nyata yang ditawarkan kepada anak muda untuk belajar dengan tindak lanjut, setelah belajar bisa mendapat pekerjaan dengan mudah, sehingga keperluan hidupnya yang nyaman bisa dipenuhi dan keluarganya dapat menikmati hiburan, olah raga dan seni budaya lainnya. Anak muda mudah melakukan kegiatan olah raga, seni dan budaya sehingga minatnya sebagai makluk hidup yang bermartabat dapat dipenuhi tanpa harus mengkonsumsi “Narkoba sebagai pelarian” dari kebingungan hidup tidak menentu.

Kegiatan dan hiburan alternatif itu perlu diberikan kepada kelompok muda yang sangat rawan atau kelompok yang menjadi sasaran empuk para pengedar, tanpa harus berteriak melarang dan cara drastis lainnya, tetapi pilihan alternatif itu tersedia secara menarik dan dapat di raih oleh generasi muda karena mendapat dukungan yang kuat dari pemerintah, atau lembaga anti Narkoba yang memiliki kepedulian, dan menginginkan masa depan yang lebih bahagia, dan sejahtera untuk generasi yang lebih tangguh di masa sepan.

Suatu usaha dukungan pada budaya hidup sejahtera pada para penggiat pendidikan, penyedia lapangan kerja serta mereka yang memberikan dukungan investasi yang peduli terhadap anak muda bangsa yang akan mengelola Negara yang maju dan masyarakat yang bahagia dan sejahtera. Dengan demikian dua sisi uang atau “two sides of the coin” melalui kampanye besar-besaran untuk generasi muda tergarap, untuk yang sudah terkena godaan Narkoba dan untuk anak muda yang menginginkan alternatif lain hidup sehat sejahtera tanpa Narkoba.

Dalam pertemuan internasional siang tadi, di dihadapan ratusan peserta, Haryono memaparkan “pendekatan pelengkap” itu dengan semangat tinggi. Semoga ada manfaat dan memberi dukungan pendekatan yang makin Skomprehensif menyelamatkan anak bangsa. @red (hs)

253 kali dilihat, 13 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!