Kenangan Prof.Dr. Haryono Suyono Mewakili Presiden Dalam Forum Tingkat Tinggi D8

Kenangan Prof.Dr. Haryono Suyono Mewakili Presiden Dalam Forum Tingkat Tinggi D8

Sindikat Post, Jakatarta – Dalam kesempatan mengenang Presiden RI, almarhum BJ Habibie, Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D., teringat salah satu penugasan yang diberikan beliau dengan penuh kepercayaan dan membanggakan adalah Tugas internasional mewakili Presiden RI pada Konperensi Kepala Negara dari D8 atau Konperensi tingkat Tinggi dari Delapan Negara di Asia di Dakka, Bangladesh.

Pada tugas itu Menko Kesra RI ditunjuk resmi mewakili Presiden RI didampingi Menteri Luar Negeri Ali Alatas, SH (almarhum) dan Penasehat Senior mantan Menko Ekuin RI Prof. Dr. Widjojo Nitisastro (almarhum),  lengkap dengan anggota Delegasi yang mewakili Deparlu dan beberapa Departemen penting lainnya.

Dalam seluruh Sidang yang diadakan di Ibu Kota Dhaka, Bangladesh yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Bangladesh, Ibu Hasina Wajed, segala sesuatunya berjalan lancar karena Menko Kesra RI sebagai Ketua Delegasi Indonesia diapit di kiri kanannya oleh Menlu dan Penasehat Senior.

Segala sesuatu tentang materi pertemuan bisa di tanyakan ke kiri ke kanan, apalagi anggota Delegasi dari berbagai Kementerian selalu siap dengan catatan selama diskusi berlangsung.

Masalah demi masalah yang ada kaitannya dengan urusan berbagai Kementerian mudah dikomentari dan dijawab karena secara praktis Ketua Delegasi sekedar menyampaikan “pendapat yang sudah siap tayang”. Para anggota Delegasi yang luar biasa dan sangat rapi selalu menyiapkan materi bahasan dengan sangat baik.

Tiba giliran “Pertemuan Empat Mata” antara para Ketua Delegasi, Perdana Menteri, Presiden dan dari Indonesia akan diwakili Menko Kesra RI. Secara sopan Menko Kesra yang kurang menguasai masalah ekonomi mohon kepada Pak Wajojo Nitisastro yang sangat berpengalaman dalam bidang ekonomi untuk mewakili Presiden RI dalam pertemuan empat mata itu.

Dengan sopan pak Wijoyo menolak karena mandat dari Presiden RI resmi diberikan kepada Menko Kesra RI. Karena ditolak pak Wijoyo, Menko beralih kepada Menlu pak Ali Alatas, Diplomat ulung RI yang sangat kondang. Dengan tenang pak Ali Alatas yang sangat berpengalaman di berbagai pertemuan internasional itu menolak “dengan senyum” dan mengatakan bahwa pertemuan empat mata itu “tidak seseram” namanya, karena Para Presiden dan Perdana Menteri dari negara lain umumnya hanya bercanda dan tidak akan bicara “masalah substansi yang ruwet” karena semua materi sudah di bahas oleh jajaran Menlu dan staf berbagai Departemen atau sudah di bahas dalam pertemuan pleno setiap hari. Menlu Ali Alatas yakin Menko Kesra memiliki bahan “guyonon ringan” berkat pengalaman luas di berbagai forum internasional sebelumnya.

Benar saja “pertemuan empat mata” itu menjadi forum “guyonon ringan KB” karena Perdana Menteri Bangladesh sangat memuji keberhasilan Indonesia dan Malaysia serta meminta diberikan bantuan konsultasi dan pelatihan di Indonesia. Pada saat yang sama Wakil Presiden Iran mendadak mendekat kepada Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Muhammad dan berbisik masalah yang sensitif.

Rupanya PM Mahatir tidak berkenan dan menghindar, mendekat kepada Menko Kesra RI serta secara spontan mengajak memilih makanan dan menarik tangan memojok berbicara memakai Bahasa Melayu menanyakan keadaan kesehatan pak Harto.

Karena Menko Kesra sangat dekat dengan pak Harto, cerita yang dibawakan sangat up to date sehingga Mahatir tidak bicara lagi dengan Wakil Presiden Iran, dengan bahasa Melayu menghabiskan pertemuan empat mata itu bercerita tentang kedekatan beliau dengan Pak Harto yang setiap minggu masih selalu berbincang dengan Menko Kesra di Cendana. Pada akhir pertemuan Menko Kesra menjadi semakin dekat dengan Mahatir, apalagi sebagai Kepala BKKBN sebelumnya, sangat dekat dengan ibu Mahatir seorang dokter senior, Ibu Mahatir yang ditugasi sebagai penasehat utama Program KB Kependudukan di Malaysia.

Pada akhir Pertemuan Tingkat Tinggi, hasil “Pertemuan Empat Mata” muncul dalam kesimpulan Sidang Presiden dan Perdana Menteri dari Delapan Negara itu dalam rumusan yang indah, padahal pada pertemuan antar Perdana Menteri dan Presiden, tidak satupun bahan itu dibahas substansinya, karena sudah tuntas dalam Sidang bersama dengan para peserta lainnya.

Sambil senyum, Menko Kesra “mencolek pada Menlu Ali alatas” sambil berkata, lihat pak Hasil Pertemuan “Empat Mata”. Sambil senyum beliau menjawab “Pak Haryono hebat dan lolos dengan baik”, karena itu pantas merasa sangat terhormat dan  bangga mewakili Presiden Habibie sebagai Kepala Negara RI di forum internasional. Kita doakan arwah Presiden BJ Habibie ditempatkan disisiNya yang terbaik sesuai amal ibadahnya. Amin. @red (hs)

530 kali dilihat, 36 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!