Keluarga Desa Sumbang Turunkan Fertilitas

Keluarga Desa Sumbang Turunkan Fertilitas

Sindikat Post, Surabaya – Haryono Suyono, mantan Kepala BKKBN selama lebih dari 17 tahun, sekaligus Ketua Tim Pakar Menteri Desa PDTT bersama Deputy bidang Pelatihan dan Pengembangan BKKBN, Prof. Dr. Rizal Damanik, mendampingi Dr. Sugiri Syarif, Prof. Lestari, Prof. Nyoman, Dr Suko Widodo dan beberapa pakar, ahli dan pekerja bidang Kesehatan dan Kependudukan dari berbagai Perguruan Tinggi di Jawa Timur memberikan gambaran bagaimana keluarga desa di Jawa Timur menjadi contoh keluarga lain di seluruh Indonesia menurunkan fertilitas atau tingkat kelahiran menjadi rata-rata 2,1 anak dari jumlah anak yang di seluruh Indonesia pada tahun 1970-an berada pada posisi enam anak. Data tersebut adalah hasil Survei SDKI BPS 2018 tentang kondisi tingkat kelahiran dan pengembangan program KKB dari seluruh Indonesia dalam tiga tahun menjelang tahun 2018. Selama tiga hari sejak Rabu kemarin, hasil survei tingkat provinsi yang baru dikeluarkan itu, dibahas oleh ahli-ahli dari berbagai Perguruan Tinggi dari dan Wakil-Wakil dari BKKBN dari seluruh Jawa Timur di Surabaya untuk ditindak lanjuti.

Tingkat kelahiran di Jawa Timur menjadi contoh dari cita-cita nasional seluruh Indonesia yang dewasa ini berada pada posisi 2,4 anak. Keberhasilan itu memberi tanda-tanda bahwa alasan kemajuan di Jawa Timur itu akan disusul oleh daerah lain karena adanya latar belakang yang sedang terjadi di banyak daerah di Indonesia. Alasan yang menonjol di Jawa Timur itu adalah pengetahuan tentang KB yang tinggi, kesertaan KB yang stabil di tingkat kota dan desa, peningkatan usia kawin pertama serta kemajuan yang luar biasa dalam bidang pendidikan dan kesempatan yang makin terbuka bagi kaum ibu untuk bekerja karena alasan pendidikan yang meningkat atau karena terpaksa bekerja membantu kehidupan rumah tangganya. Pengaruh berubahnya masyarakat desa menjadi masyarakat kota memiliki andil yang besar.

Haryono Suyono yang ditugasi memberi ulasan terhadap banyak studi analisis yang dikerjakan para pakar dari berbagai Perguruan Tinggi menggambarkan bahwa perkembangan yang melanda banyak desa selama tiga tahun sebelum tahun 2018, dipengaruhi juga mengalirnya dana desa sebanyak Rp. 187 triliun langsung ke desa, membangun prasarana, termasuk pembangunan jalan, pasar Posyandu, klinik desa, MCK, air bersih dan lainnya yang mendukung meningkatnya Desa Mandiri dari 2.894 desa pada tahun 2014 menjadi 5.559 desa pada tahun 2017. Sebaliknya jumlah desa tertinggal menurun dari 19.750 desa menjadi 13.232 desa memungkinkan masyarakat desa makin mudah mengakses fasilitas kesehatan, air bersih, MCK, pendidikan, pasar dan lainnya yang lebih baik. Karena itu tidak saja anak perempuan bersekolah dan menjadi anak maju dan modern, tetapi kaum ibu memiliki kesempatan bekerja di luar rumah sehingga biarpun kesertaan KB yang sudah tinggi stabil, tetapi diikuti penurunan tingkat kelahiran. Dalam keadaan angka kelahiran 2,1 anak, Jawa Timur mulai memiliki keseimbangan jumlah penduduk yang meninggal sama banyaknya dengan jumlah bayi yang dilahirkan, usia harapan hidup bertambah panjang dan tumbuh kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Dengan modal tingkat fertilitas dan pertumbuhan penduduk rendah, tingkat pendidikan serta semangat membangunan yang tinggi, kita doakan masyarakat Jawa Timur menjadi pelopor pembangunan yang berhasil pada era industri 4.0 yang penuh tantangan ini untuk dihadapi dengan kerja sama gotong royong yang dinamis, terarah dan konsisten. Amin. @red (hs)

111 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!