Keberhasilan Usaha Rakyat Membangun Keluarga Sejahtera

Keberhasilan Usaha Rakyat Membangun Keluarga Sejahtera

Sindikat Post, Jakarta – Sejak umat manusia di hadirkan di bumi, melalui berbagai cara mereka berusaha hidup di bumi dengan nyaman. Dari cara sederhana, memburu binatang berkembang menjadi acara berburu dengan alat yang canggih.

Begitu juga manusia modern, memakai akal dan cara melakukan upaya peningkatkan pendapatan keluarga agar hidup nyaman, biarpun hasilnya tidak selalu positif, manusia berusaha keras agar mendapat hasil yang baik sehingga hidupnya nyaman. Tetapi selalu saja ada yang tertinggal dan serba kekurangan.
Akibatnya dalam masyarakat selalu terdapat keluarga miskin dan keluarga kaya.

Terdapat kesenjangan dan sering kesenjangan bukan makin sempit tetapi justru makin menganga karena yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Karena itu, dalam setiap generasi selalu ada upaya mempersempit jurang tersebut, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Selama masa Orde Baru di tahun 1965 sampai tahun 2000-an banyak usaha dilakukan oleh pemerintah dan juga oleh banyak lembaga swadaya masyarakat.

Salah satu lembaga swadaya masyarakat yang sangat besar dan luas jangkauannya adalah lembaga PKK yang dibina langsung oleh pemerintah dari tingkat pusat sampai ke tingkat desa. Biasanya lembaga ini pada tingkat kabupaten dipimpin oleh Ibu Kepala Daerah atau isteri Bupati dan pada tingkat desa oleh isteri Kepala Desa dan di kota oleh isneri Walikota dan isteri Ketua RW dan Ketua RTnya.

Di masa lalu, dalam pertiode yang sama, BKKBN mengembangkan program KB berbasis masyarakat, hampir sendirian membangun suatu Desa atau kampung yang penghuninya memiliki anak banyak dianjak, diusahakan berubah menjadi Desa yang penghuninya rata-rata memiliki dua orang anak.

Pada tingkat awal, mereka yang setuju dan menjadi peserta KB bergabung dalam Kelompok yang dinamakan Kelompok Akseptor atau penerima gagasan. Kelompok ini makin besar jumlah anggotanya sehingga lama-lama kelompok ini memecah menjadi kelompok yang jumlahnya makin banyak.

Untuk menarik hati setiap kelompok, maka kelompok ini diajak bersahabat dengan berbagai instansi yang ikut terjun ke desa. Pada tingkat awal, sahabat yang paling  adalah rekan-rekan dari jajaran Departemen Kesehatan, utamanya para bidan dan dokter yang karena dedikasinya dan tidak ingin melihat ibu muda yang hamil berakhir dengan kematian.

Kelompok Akseptor bersahabat dengan para bidan dan dokter dan mendapat nasehat bagaimana memelihara kehamilan dan mencegah kematian ibu hamil dan melaahirkan. Persahabatan antar kelompok dengan para bidan dan dokter menjadi bonus yang menarik bagi ibu muda, ibu hamil dan ibu melahirkan. Pendekatannya bukan karena bidan bertugas, tetapi karena bidan dan dokter adalah sahabat yang siap menolong dan berbagi kepandaian dengan sahabat anggota Kelompok Akseptor.

Setelah mulai ada kerja sama yang makin baik dengan para bidan dan dokter, mulai disadarkan perlunya program KB, sahabat para bidan dan dokter itu bertambah dengan para kader PKK. Para kader yang berasal dari penduduk biasa di desa yang paling dulu sadar dan siap bekerja sama. Mereka diangkat keatas permukaan sebagai kader, suatu “label” yang memberi kebanggaan tersendiri kepada anggota masyarakat biasa. Mereka menjadi sahabat baru bersama para relawan gerakan KB awal yang berasal dari para anggota PKBI.

Makin lama relawan PKBI makin banyak dan begitu juga relawan PKK mulai masuk dari desa ke desa. Lebih-lebih karena PKK selalu dipimpin oleh Kepala Desa, Camat dan Bupati atau Walikota, maka relawan PKK menjadi sahabat dari gerakan KB yang pertambahannya makin cepat. Kegiatan PKK dirumuskan begitu rupa dekatnya dengan program KB seakan program PKK juga program KB dengan segala rinciannya.

Para petugas PLKB diberi instruksi ketat agar memelihara persahabatan dengan kelompok PKK di setiap desa. Maka terjadilah keakraban yang tidak tergoyahkan antara jajaran Kelompok Akseptor, PKK dan Petugas PLKB BKKBN serta jajaran bidan dan dokter. Setiap lembaga bersifat tolong menolong dan menghasilkan sinergi yang menuju pencapaian target bersama.

Selanjutnya para PLKB diberi pembekalan secara nasional maupun lokal oleh para pejabat lintas sektor agar meneruskan kepada Kelompok PKK untuk mendorong agar keluarga yang dibina menjadi keluarga sehat dan sejahtera. Karena itu para anggota kelompok dengan bantuan bidan dan dokter pertama tama mengusahakan agar anggotanya sehat dan sejahtera.

Syarat hidup sehat dimulai dengan ibu dan anak menjadi syarat yang pertama. Kemudian ditambah gizi yang baik untuk anak menyusui dan akhirnya gizi yang baik untuk seluruh keluarganya. Keluarga yang disasar adalah keluarga muda sehingga kesehatan anak pada tingkat awal terkonsentarasi pada bayi dan anak balita.

Kelompok Akseptor dengan kegiatan utama kesehatan ibu dan anak itu berlangsung beberapa waktu sampai akhirnya kelompok tersebut memunculkan kegiatan lain seakan memenuhi kebutuhan dalam kelompok yaitu mengirim anak balita ke PAUD. Apabila PAUD ada di desa, maka anak balita dikirim ke PAUD dan diantar oleh ibunya. Apabila di desa tidak ada PAUD, maka para anggota mengembangkan kelompok bermain untuk anak balita.

Muncul kelompok ibu-ibu dalam Kelompok Akseptor yang memiliki anak balita mengembangkan Kelompok Bina Balita artinya kelompok dengan ibu-ibu yang memiliki anak balita. Kelompok ini bertambah dengan permainan untuk anak balita dan kegiatan untuk anak balitanya. Suasana di desa bertambah asyik karena sesama akseptor KB diberi mainan memelihara dan membuat anak-anak mereka permainan baru yang mengasyikan sehingga perhatian para ibu muda tidak saja terfokus karena menjadi akseptor KB semata, tetapi makin sayang kepada anak mereka yang berusia dibawah lima tahun.

Setelah mereka makin kokoh kekeluargaannya dalam memelihara tumbuh kembang anak balitanya dan memiliki perhatian dan kesetiaan yang makin akrab dengan KB, maka para akseptor tersebut “diwisuda” menjadi akseptor KB yang lestari. Mereka bukan lagi akseptor, atau penerima, tetapi menjadi “Kelompok Peserta KB lestari”.

Menjadi peserta program KB membawa keluarganya makin sejahtera. Kepada kelompok yang dianggap matang mulai diperkenalkan program kegiatan ekonomi seperti pelatihan masak memasak, pelatihan bikin kue, pelatihan bikin sesuatu yang laku jual dan menguntungkan, bikin anyam anyaman laku jual, serta pelatihan menjadi pedagang kecil di desanya, sesuatu yang intinya adalah membuat ibu-ibu memiliki kesibukan di luar rumah.

Pengenalan kegiatan itu menghasilkan pembentukan kelompok yang menghasilkan produk laku jual yang menampung itu-ibu berkumpul. Ibu-ibu kemudian berjualan di Warung atau tempat lainnya. Kegiatan yang menghasilkan pasar yang memerlukan tempat tetap sehingga mengkokohkan kegiatan ibu-ibu membuat warung di rumah masing-masing. Maka terbentuklah Warung Kelompok atau Warung perorangan yang dikelola dengan baik oleh ibu-ibu.

Terjadi industrialisasi kecil-kecilan pada tingkat desa yang menghasilkan kegiatan kelompok keluarga sejahtera yang memiliki kegiatan industri mikro yang menghasilkan produk laku jual.
Penduduk memiliki inovasi baru yang menguntungkan setiap keluarga yang mau bekerja keras dan membebaskan diri dari lembah kemiskinan berubah menjadi keluarga yang sejahtera secara lestari. Terjadilah perubahan sosial yang berdampak jangka panjang d suasana kekeluargaan yang akrab sehingga mudah ditularkan kepada tetangganya secara damai tanpa paksaan. Proses tersebut pada tahun 1990-an diramu dalam program keluarga sejahtera yang bersama program IDT ikut menurunkan tingkat kemiskinan secara dramatis. Karena kemiskinan menurun dari 70 persen di tahun 1970 menjadi 11 persen pada tahun 1997, atas nama Pemerintah RI, Presiden mendapat penghargaan PBB yang diserahkan langsung oleh Dirjen UNDP di Jakarta,. Alhamdulillah. 

Penulis : Haryono Suyono

75 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!