Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian Buka Sosialisasi Revitalisasi Industri Obat Tradisional

Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian Buka Sosialisasi Revitalisasi Industri Obat Tradisional

Sindikat Post, Semarang – Pidato Utama Setyo Wasisto, Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian pada acara Sosialisasi Revitalisasi Industri Obat Tradisional Melalui Kebijakan Pengembangan Investasi dan Pengawasan Obat Tradisional di Semarang. Kamis (10/10/2019).

“Kepada yang terhormat, para pejabat eselon I dan II di lingkungan Pemerintah
Daerah Provinsi Jawa Tengah atau yang mewakili, Para Kepala Dinas di lingkungan Pemerintah Daerah Kota Semarang atau yang mewakili, Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi, Kemenperin, Ketua Umum dan pengurus Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) atau yang mewakili, Hadirin para undangan yang saya hormati,” tutur Inspektur Jenderal Kementerian.

“Assalamu’alaikum Wr.Wb., Selamat Pagi, Salam sejahtera bagi kita semua. Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita semua dapat berkumpul bersama pada hari ini dalam acara “Sosialisasi Revitalisasi Industri Obat Tradisional Melalui Kebijakan Pengembangan Investasi Dan Pengawasan Industri Obat Tradisional. Saya menyambut baik kegiatan ini karena mempunyai arti yang sangat penting sebagai ajang silaturahmi dan penyebaran informasi atas berbagai kebijakan dan program di bidang industri obat tradisional serta diharapkan pelaku industri dan masyarakat dapat lebih memahami arah dan pengembangan serta penerapan kebijakan dan program pemerintah tersebut,” ungkap Setyo.

“Hadirin yang saya hormati, Terbitnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri nasional, baik skala besar maupun skala kecil dan menengah. Undang-undang ini menurunkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana
Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035 (RIPIN), dimana industri obat tradisional bersama-sama
dengan industri farmasi dan kosmetik menjadi salah satu Industri Andalan, yaitu industri prioritas yang berperan
besar sebagai penggerak utama (prime mover) perekonomian di masa yang akan datang. Pasar obat tradisional di Indonesia merupakan salah satu pasar yang cukup besar dan menjanjikan bagi produsen seiring dengan meningkatnya jumlah populasi penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Setyo.

“Peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap produk hasil industri obat tradisional yang jika dapat ditanggapi secara bijak merupakan peluang bagi sektor industri untuk dapat meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian negara. Dalam aktivitas ekonominya, pangsa pasar industri obat tradisional telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan setiap tahunnya. Seperti diketahui bersama, berdasarkan data Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan. Kementerian Kesehatan Tahun 2018 menyebutkan bahwa postur industri obat tradisional Indonesia adalah sekitar 88,6% merupakan industri dengan skala kecil dan menengah (874 perusahaan) dan hanya 11,4% merupakan industri dengan skala besar (112 perusahaan),” tambah Setyo.

“Kemudian, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan 1 tahun 2019,
sektor industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional tumbuh sebesar 8,12% dengan nilai PDB
sebesar 20,38 Triliun Rupiah. Salah satu indikator pertumbuhan terlihat dari beberapa industri obat tradisional skala menengah dan besar, sudah mampu mengekspor produknya ke luar negeri seperti ke ASEAN, Afrika, Timur Tengah, Eropa dll. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan sisi ekspor, penjualan produk obat tradisional mencapai 51,09 juta US Dollar di tahun 2018, capaian ini lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang hanya sebesar 36,82 juta US Dollar. Namun masih terdapat tantangan sangat besar terhadap industri obat tradisional dalam negeri, dimana saat ini produk jadi obat tradisional berasal dari impor masih terbilang sangat tinggi. Hal ini dapat ditunjukkan dengan data impor obat tradisional pada Tahun 2018 sebesar US$ 151,15 juta US Dollar meningkat dibandingkan Tahun 2017 sebesar 146,06 juta US Dollar,” tambah Setyo.

“Hadirin yang saya hormati, Perkembangan industri obat tradisional perlu diarahkan pada penggunaan bahan baku berbasis herbal. Prospek
pengembangan industri obat tradisional berbasis herbal di Indonesia cukup potensial mengingat Indonesia memiliki
banyak tanaman herbal/obat-obatan yang secara turun temurun sudah banyak digunakan baik untuk kesehatan
maupun kecantikan. Hal ini merupakan suatu kekuatan jika dapat dimanfaatkan maksimal. Saat ini terdapat sekitar 30.000 jenis tanaman herbal/obat-obatan, tetapi hanya 350 jenis diantaranya yang telah digunakan secara teratur oleh industri. Kenyataan dilapangan juga menunjukkan bahwa agribisnis tanaman herbal/obat-obatan tidak berkembang dengan baik dan merata di seluruh Indonesia, karena petani dan pelaku usaha kurang memahami kebutuhan pasar domestik dan ekspor yang menginginkan produk siap pakai yang telah diolah. Sebagai dampak dari kondisi diatas adalah belum/tidak terpenuhinya jumlah pasokan yang diminta oleh industri obat tradisional akan beberapa komoditas tanaman herbal/obat-obatan yang diperlukan, baik yang tumbuh liar maupun tanaman yang telah dibudidayakan. Oleh karena itu, sinergi kebijakan dan program pengembangan rantai pasok dan riset (litbang) di industri obat tradisional menjadi strategis antara pelaku usaha (industri), lembaga riset dan universitas dan pemerintah,” lanjut Setyo.

“Hadirin yang saya hormati, Umumnya pembuatan obat tradisional merupakan usaha keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Sifatnya yang berkembang secara tradisional menjadi ciri khas usaha ini sebagai salah satu warisan budaya bangsa. Untuk dapat meningkatkan daya saing dan peningkatan mutu produk industri obat tradisional, serta dalam
menghadapi persaingan global dan dalam upaya mendorong peningkatan kinerja produk industri, maka
para pelaku industri obat tradisional perlu memenuhi persyaratan standar mutu produk dan penerapan sistem
manajemen produksi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) yang berlaku serta dikelola dan diawasi oleh institusi pemerintah yang berwenang yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pemerintah menyadari bahwa pengawasan dan pembinaan industri obat tradisional merupakan kerja sama lintas sektoral yang saling terintegrasi agar menjadi kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan yang diantaranya adalah banyaknya produk impor yang memasuki pasar dalam negeri. Dalam pembinaannya, selain pemenuhan terhadap regulasi dari sisi kesehatan juga diperlukan fasilitasi atau bantuan pemerintah untuk menjamin standar dan kualitas produk. Kementerian Perindustrian tentunya tidak bisa jalan sendiri mengawal kebijakan industri tersebut. Peran Kementerian/Lembaga terkait seperti Kementerian Kesehatan dan BPOM sangat penting sebagaimana peran asosiasi dunia usaha sebagai mitra pemerintah dalam memberikan masukan serta evaluasi kebijakan kepada Pemerintah,” tambah Setyo.

“Hadirin yang saya hormati, Saat ini kita memasuki era industri 4.0, merupakan era transformasi digital yang akan menciptakan nilai tambah baru dalam industri obat tradisional. Pemanfaatan teknologi dan kecerdasan digital mulai dari proses produksi dan distribusi ke tingkat konsumen (e-commerce) memberikan peluang baru guna dapat meningkatkan daya saing industri obat tradisional dengan adanya perubahan selera konsumen dan perubahan gaya hidup. Kementerian Perindustrian juga tengah memfokuskan pengembangan pendidikan vokasi industri yang berbasis kompetensi, serta memiliki keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja, agar tenaga kerja lokal mampu bersaing. Dengan pendidikan vokasi, diharapkan akan mampu menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten, sesuai dengan kebutuhan dunia industri nasional saat ini. Sehingga tidak ada lagi kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja industri, dengan tenaga kerja lokal berkualitas yang tersedia,” tambah Setyo.

“Hadirin yang saya hormati, Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Daerah Kota
Semarang dan sekitarnya, GP Jamu, pelaku usaha dan instansi terkait yang telah ikut serta dalam acara ini. Semoga kegiatan ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan industri obat tradisional sehingga mampu bersaing di pasar global. Akhir kata, dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa seraya mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim”, saya nyatakan “Sosialisasi Revitalisasi Industri Obat Tradisional Melalui Kebijakan Pengembangan Investasi Dan Pengawasan Industri Obat Tradisional” dibuka secara resmi. Terima kasih, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.” Pungkasnya. @red

259 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!