Inovasi Jamu Ternak Kelompok Tani Desa Jehem Kab.Bangli Bali Tingkatkan Produksi

Sindikat Post, Bagli Bali – Bagi peternak, apabila ingin sukses, segala sesuatu perlu dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Laporan dari Desa Jehem akhir Februari lalu mengelitik Ketua Tim Pakar Menteri Desa PDTT Haryono Suyono tentang peternakan tetapi bukan tentang ternaknya, malah tentang jamu untuk pengobatan sebagai bagian penting pemeliharaan ternak dari penyakit.

Menurut I Nengah Konci disadari dari pengalaman bahwa penggunaan obat-obatan kimia dalam jangka panjang bisa berdampak buruk bagi ternak dan lingkungan. Untuk itu para peternak memgali dan mencoba meramu Jamu Prebiotik Ternak yang dewasa ini menjadi inovasi pengobatan herbal Kelompok Tani Ternak Sato Nadi Desa Jehem untuk kebutuhan obat yang ramah lingkungan dan harga terjangkau serta mengingkatkan kapasitas produksi.

Kelompok Tani Ternak Sato Nadi berada di Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali. Kegiatan peternakan yang dikembangkan adalah ayam petelur dan pedaging. Pada periode 2003-2018, peternakan mengalami gangguan penyakit sehingga kapasitas produksi ayam tidak sesuai dengan harapan. Awalnya, sebagian besar pengobatan menggunakan obat-obatan kimia yang harganya cukup mahal.

Biaya pengadaan obat-obatan menyebabkan ongkos produksi besar, para peternak sering mengeluhkan kelangkaan obat-obatan kimia di pasar lokal. Situasi itu membuat kualitas hasil ternak turun, peternak merugi. Pada 2017, peternak mengolah tanaman obat keluarga (toga) menghasilkan obat–obatan herbal untuk ternak. Produk unggulan adalah Jamu Prebiotik Ternak yang diproduksi dengan biaya yang relatif rendah dan ramah lingkungan.

Untuk membuat Jamu Prebiotik Ternak, para peternak harus mampumengenal kasiat setiap tanaman. Bahan-bahan baku obat tidak asing, seperti lengkuas, jahe, bawang putih, kunyit, kencur, daun sirih, molase, dan prementor. Untuk pengolahan bahan bahan herbal tersebut, peternak perlu peralatan sederhana, seperti penumbuk atau blender, botol, jirigen dan kain penyaring. Semua bahan-bahan dibersihkan, ditumbuk halus atau diblender sampai halus, lalu disaring dengan saringan sampai mendapat cairan sebanyak 2 liter.

Cairan selanjutnya ditambah 1 liter molase, 1 liter permentor dan 2 liter air masak. Semua bahan di atas dicampur secara merata dan dimasukan ke dalam jirigen atau botol yang ditutup rapat atau kedap udara dan didiamkan selama 2 minggu. Biaya pembuatan jamu prebiotik ternak ini sangat terjangkau. Pemerintah Desa dan Kelompok Tani bekerjasama meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat Jamu Prebiotik Ternak melalui pelatihan dan ujicoba yang rutin. Penggunaan herbal butuh kesabaran karena efek pengunaan obat herbal tidak instan.

Setelah satu tahun berjalan, para peternak merasakan manfaat jamu prebiotik ternak. Kesehatan ternak semakin baik, jarang terkena penyakit, dan hasil produksi terus meningkat. Ketersediaan bahan baku melalui program tanaman obat keluarga (toga) mampu menekan biaya produksi. Akhirnya, pemanfaatan jamu prebiotik ternak membuat para peternak giat menggali manfaat dan kasiat tanaman untuk obat. Jamu Prebiotik ternak mampu mengubah mindset peternak terhadap obat herbal. @red (hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *