Fenomena Gunung Es, Kelihatan Kecil tetapi Sangat Besar

Fenomena Gunung Es, Kelihatan Kecil tetapi Sangat Besar

Sindikat Post, Jakarta – Pagi ini kami, Prof. Dr. Haryono Suyono penggerak Posdaya di desa, sempat ber-WA santai dengan Dr. Wandi SpOG dari Lampung tentang kasus virus Corona atau Covid-19 yang dari hari ke hari, kasusnya makin naik sangat besar.

Seperti kawan-kawan yang lain, dalam WA-nya, beliau memberi petunjuk agar kita menjaga diri dengan memelihara jarak fisik antar sesama, tidak bersentuhan, dan sering mencuci tangan, serta kalau bepergian, apalagi banyak bertemu dan bersentuhan dengan khalayak ramai, segera cuci tangan dan mengganti baju yang kita pakai dengan baju yang lebih bersih, dan segera mencuci baju yang kita pakai tersebut dengan tingkat ke hati-hatian tinggi, karena bisa saja virus secara tidak sengaja pada waktu bersentuhan terbawa serta pada pakaian yang dipakai.

Beliau juga menganjurkan agar kita membersihkan lantai, meja kursi dan lain-lain dengan desinfektan, agar terbebas dari virus yang mungkin menempel pada permukaannya. Termasuk kita harus membersihkan karpet-karpet yang bisa menjadi tempat menempelnya virus yang ganas tersebut.

Kita kurangi kumpul-kumpul, dan utamanya menjaga jarak agar tidak terkontaminasi virus yang dibawa, atau terbawa oleh orang yang sedang bersama kita. Beliau lebih menganjurkan penggunaan sabun karena kalau memakai handsanitizer, biasanya mengandung alkohol tinggi sampai 70 persen, sebaiknya sehari dilakukan tidak lebih dari lima kali karena adanya alkohol kadar tinggi tersebut.

Seperti saya, beliau setuju kalau di lakukan penyelidikan langsung ke masyarakat. Penelitian ke masyarakat itu menurut pengalaman kami, akan menghasilkan jumlah penderita bisa jauh lebih tinggi di bandingkan dengan data yang dilaporkan secara resmi.

Saya mengingatkan beliau pada peristiwa tatkala BKKBN pada akhir tahun 1970-an meyakinkan DepKes melalui Prof. Dr. Sulianti Saroso sebagai Kepala Pusat Penelitian kala itu, yang secara spontan setuju bahwa BKKBN ikut serta menyelenggarakan program Gizi pada 30.000 desa di seluruh Indonesia.

Kemudian, karena keterbatasan jumlah bidan, Dirjen dr. Subekti sepakat dimulai pada 15.000 desa sehingga para PLKB dan bidan bekerja sama melakukan penelitian langsung dari rumah ke rumah. Hasilnya mengejutkan karena jumlah anak balita penderita kurang gizi melonjak drastis.

Sebenarnya tidak melonjak, bukan karena bertambah, tetapi sebelumnya tidak melapor atau tidak tercatat. Timbul rasa tidak nyaman pada aparat DepKes seakan Deputi BKKBN mempermalukan aparat Depkes. Setelah dijelaskan bahwa tujuannya bukan saling menyalahkan tetapi ingin mencari solusi, maka Program Gizi BKKBN dengan bantuan UNICEF dijadikan gerakan Gizi masyarakat yang besar, dan masyarakat di ajak gotong royong menyelesaikan kasus itu dengan melakukan penimbangan anak balita secara teratur, serta masyarakat dan keluarga secara gotong royong menambah makanan bergizi bagi keluarga yang anak balitanya kurang gizi.

Dari program 15.000 desa itu, selama lima tahun dikembangkan menjadi gerakan untuk 60.000 desa di mana masyarakat dan keluarga diajak secara teratur menimbangkan anak balitanya, dan dengan dukungan PKK di setiap desa dan aparat lainnya, dalam gerakan masyarakat yang masif, anak balita kurang gizi di beri makanan tambahan secara gotong royong.

Selama lima sepuluh tahun berikutnya kasus kurang gizi yang melonjak drastis pada akhir tahun 1970-an dapat dikendalikan dengan baik. Pada akhir tahun 1990-an tidak ada lagi kasus kurang gizi, kita semua gembira.

Fenomena gunung es, yang kelihatannya kecil tetapi sesungguhnya besar itu, mengejutkan semua kalangan, menjadi pemicu yang mendorong kerja sama yang akrab dan dinamis membawa hasil sangat positif.

Kalau hari ini dilakukan penelitian dari rumah ke rumah oleh para petugas medis, dibantu relawan dengan perlindungan yang ketat, hampir pasti jumlah yang terkena virus atau setidaknya jumlah yang berada dalam kondisi membawa virus, tetapi belum merasa sakit karena virus ganas itu, akan jauh lebih banyak dari yang dilaporkan secara resmi.

Kita tidak perlu panik, tetapi harus segera mengambi aksi membantu keluarga yang rawan seperti itu dengan penjelasan, dan cara menolong diri sendiri, agar virus yang sudah ada, bisa mati suri dan tidak menyebabkan orang yang masih tahan itu terkena sakit, karena daya tahan tubuhnya tidak bisa menyembuhkan sendiri dari serangan virus Corona tersebut.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi kita, dan kita semua tidak menyembunyikan kasus yang sesungguhnya masih bisa di tolong, tidak perlu harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan khusus.

Aamiin, semoga kita segera terbebas dari rasa khawatir karena serangan Virus yang ganas itu. Kita perlu waspada pada fenomena gunung es yang sangat menipu dan berbahaya.

Penulis: Prof. Haryono Suyono.

645 kali dilihat, 15 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!