Wartawan Surabaya Hadiri Acara Refleksi Akhir Tahun 2018 “Laju Pena Tak Terhalang Jeruji”

Wartawan Surabaya Hadiri Acara Refleksi Akhir Tahun 2018 “Laju Pena Tak Terhalang Jeruji”

Sindikat Post, Surabaya – Puluhan wartawan yang ada di kota Surabaya menghadiri Acara Refleksi Akhir Tahun 2018 yang mengusung tema “Laju Pena Tak Terhalang Jeruji” di Pendopo Taman Hiburan Rakyat (THR) jalan Kusuma Bangsa Surabaya. Jumat (28/12/2018).

Tampak hadir di acara selain para wartawan ada beberapa pimpinan redaksi (Pimred) media online dan cetak antara lain Gatot Irawan, Slamet Maulana (Ade) H. Marzuki, H. Wawan, Zam zami, Kiky, Candra Hartawan dan Pimpinan organisasi Pers ataupun perwakilan dari organisasi Pers antara lain Dedik Sugianto ketua umum Sindikat Wartawan Indonesia (SWI), H. Subaidi Pembina Majelis pers serta Suhadak mewakili ketua KWRI Jawa Timur, serta para aktivis juga tampak hadir di acara itu, antara lain Udin Sakera, Yanto Banteng, Pokemon dan aktivis lainnya.

Pada awal pembukaan Kiky sebagai ketua panitia dan penggagas acara menyampaikan terimakasih atas kehadiran rekan rekan wartawan. “Terimakasih atas kehadirannya, acara ini tidak ada sponsor, tidak ada yang danai, kita adakan dengan kesadaran masing masing, dan tujuan diadakan acara ini supaya ditahun 2019 tidak ada lagi kriminalisasi wartawan dan juga supaya wartawan di Indonesia khususnya di Surabaya dapat kompak dan bersatu,” ungkap Kiky.

Agus Pudjianto, pemandu acara, memanggil beberapa nara sumber dari kalangan pers untuk dapat menyampaikan pandangan terkait kiprah wartawan di tahun 2018 dan bagaimana menciptakan persatuan sesama wartawan khususnya di Surabaya.

Pamaparam pertama dilakukan Udin Sakera, Ia mengatakan bahwa jangan ada lagi kriminalisasi wartawan di Tahun 2019 mendatang. “Kejadian demi kejadian yang menimpah wartawan di tahun 2018, ada yang dibunuh ada yang dipenjara contohnya rekan kita Ade yang telah dikriminalisasi. Dengan kejadian-Kejadian itu wartawan harus bersatu, jangan ada lagi kriminalisasi lagi, kita harus mencegah kejadian serupa terjadi ditahun 2019,” kata Udin Sakera.

Dikesempatan yang sama, Gatot Irawan yang dianggap sebagai sesepuh wartawan Surabaya mengatakan, wartawan harus independen. “Wartawan dalam pemberitaan harus independen, tidak boleh ada intervensi dalam suatu pemberitaan.” Tuturnya.

Pembicara berikutnya adalah Zam Zami, Ia menjelaskan dalam suatu perusahaan media ada manajemen stuktur yang mempunyai tugas masing-masing. “Di redaksi suatu media ada pimred, redaktur, berita naik atau tidak dari mereka, jadi jangan menyalahkan wartawannya karena beritanya tidak naik, karena itu wewenang redaktur. Dan dari kejadian yang dialami saudara Ade, perlunya kita membahas upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kriminalisasi jurnalis ditahun 2019,” ungkapnya.

Dedik Sugianto ketua organisasi pers SWI ketika diberi kesempatan untuk berbicara, ia mengatakan wartawan harus bersatu. “Darah saya adalah darah jurnalis, jika ada wartawan terkena masalah kita harus bersatu membantu, jangan takut menulis berita asalkan kita ada data dan sesuai fakta, jika kita dipenjara atau mati gara gara tulisan berita kita, itu adalah resiko seorang jurnalis, kalau anda penakut jangan jadi wartawan.” tutur Dedik dengan bersemangat.

Dalam menyampaikan pandangan pemaparan kejadian di tahun 2018, aktivis juga diberi kesempatan untuk berbicara, Yanto Bandeng dalam kesempatan itu berbicara, aktivis membela masyarakat dan pelestarian cagar budaya kota Surabaya harus didukung oleh media. “Banyak kegiatan aktivis terkait pembelaan kepada masyarakat dan pembongkaran cagar budaya di Surabaya sampai terakhir pembelaan terhadap korban pada saat lihat drama kolosal Surabaya Membara, media banyak tidak memberitakan itu, harapan kita di tahun 2019, aktivis dan wartawan bekerja sama, supaya permasalahan masyarakat Surabaya bisa didengar diseluruh Indonesia.” Ungkap Yanto.

Slamet Maulana (Ade) menjadi pembicara terakhir dalam acara itu, Ade sebelumnya dipenjara selama 6 bulan dengan dugaan telah dikriminalisasi, ia mengatakan jangan takut menulis berita. “Gara gara pemberitaan, saya dihukum 6 bulan penjara, dan saya tidak takut, karena apa yang saya tulis itulah data yang saya dapat pada saat investigasi. Masyarakat butuh kita, di penjara banyak narapidana curhat kesaya terkait permasalahan kenapa masuk penjara, banyak media menulis tidak sesuai kejadian sebenarnya karena para wartawan menulis rilis dari institusi. Hal itu saya ketahui dari pengakuan para narapidana di Lapas Sidoarjo. Mereka butuh media, untuk memberitakan kejadian yang sebenarnya yang dialami mereka. Jadi wartawan jangan takut, masyarakat diluar butuh wartawan.” Ungkap Ade.

Penutupan acara ditandai dengan pemberian piagam oleh Kiky selaku ketua panitia acara kepada Ade sebagai jurnalis yang berani memberitakan fakta walaupun resikonya dipenjara. @red

291 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!