Pulang Mudik Tahun Ini Bisa Nyaman dan Menakjubkan

Pulang Mudik Tahun Ini Bisa Nyaman dan Menakjubkan

Sindikat Post, Jakarta – Pulang mudik Hari Raya Idulfitri, atau liburan Hari Raya Idulfitri tahun ini sungguh akan jauh lebih nyaman dibandingkan dengan pengalaman pulang mudik beberapa tahun sebelumnya. Jalan tol yang dimasa lalu masih jarang dan belum tersambung satu jalur dengan jalur lainnya, dewasa ini hampir semua jalur-jalur pokok dari ibu kota ke hampir segala penjuru tanah air sudah selesai dan tersambung.

Jalur-jalu sulit dan hampir tidak terbayangkan bisa dibangun jalan tol atau jalur lalu lintas biasa yang hari-hari ini telah terbentang sebagai jalan layang, jalan sambungan ke jalur jalan lama atau jalur lainnya dengan model yang sangat menakjubkan, melintas gunung, menyambung gunung, bahkan ada yang seakan berada di awang-awang.

Setiap potong jalan menimbulkan detak jantung dan seakan memaksa setiap pengendara kendaraan dalam perjalanan semacam itu selalu melihat jendela mobil atau bus yang berjalan lancar karena kemulusan jalan dan pemandangan yang menakjubkan.

Kalau di sana sini ada macet, barangkali karena volume yang pulang mudik atau wisata lebaran tahun ini akan lebih melimpah dibanding tahun-tahun yang lalu karena telah mendengar fasilitas jalan pulang mudik sudah mulus menyebar lewat media masa atau media sosial yang luas.

Lebih dari itu, syukur alhamdulillah, jalur alternatif sudah jauh lebih siap dibanding tahun-tahun sebelumnya, bahkan jalur lewat jalan desa sudah sangat memadai karena melimpahnya dana desa yang dalam empat tahun ini sengaja diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur, termasuk membangun ribuan kilometer jalan desa yang menghubungkan antar desa dengan desa lain menyambung ke jalur alternatif yang menghubungkan kota satu dan kota lainnya melalui desa yang makin makmur.

Apabila penduduk desa makin sadar akan kesempatan menahan sahabatnya pulang mudik dengan tanda-tanda akan tumbuhnya wisata desa yang menarik, barangkali pulang mudik justru akan lebih banyak berubah menjadi wisata desa berkunjung ke hampir setiap desa yang dilewati dan harus terpaksa berhenti, menikmati wisata desa dengan aneka inovasi yang sangat menarik, menginap di rumah penduduk yang telah diubah menjadi fasilitas “home stay” yang tidak kalah dengan hotel berbintang, dengan disapa penduduk desa yang polos dan santun agar tamunya bisa betah tinggal di rumahnya. Suatu pengalaman yang menarik dan sungguh akan menjadi catatan sejarah hidup yang sangat menyegarkan.

Dalam perjalangan ke Yogyakarta, hampir di setiap kabupaten selalu ada pusat turis desa yang mengangkat keistimewaan suatu desa menjadi tempat hiburan yang berbeda dengan desa lainnya. Di Yogyakarta, tepatnya di Sleman, ada hamparan sawah yang diubah menjadi suatu “Taman Mini Indonesia Indah” yang setiap pengunjungnya diharuskan menukarkan uangnya dengan uang jaman kuno untuk bisa berbelanja dan menikmati hiburan dan segala makanan nikmat yang disajikan oleh ibu-ibu dengan pakaian adat dan senyum yang sangat menawan. Suatu pengalaman yang tidak ada bandingannya dengan pengeluaran yang sangat murah.

Di Kota Yogyakarta ini kalau kita datang dengan pesawat terbang akan menikmati air port sangat baru di Kulon Progo, dan pengunjung tidak harus buru-buru meninggalkan kota ini karena di kabupaten yang dimasa lalu sangat miskin, hari ini sudah siap memberikan hiburan dengan masyarakat yang semangat kemandiriannya tinggi.

Tidak jauh dari Yogyakarta, di Klaten, ada suatu desa yang menawarkan banyak acara menarik yang memaksa pengunjungnya menginap di daerah ini untuk menikmati hiburan dan pengalaman bersama anak-anak dan cucu dengan kepuasan yang maksimal. Karena yang ditawarkan banyak, maka tidak akan selesai dan memuaskan kalau hanya dinikmati satu hari saja.

Belum kalau kita ingin menikmati hasil industri kain lurik, batik dan lainnya yang sangat murah dan tersebar di hampir seluruh wilayah. Klaten yang adalah suatu kota Kabupaten tetapi memiliki pusat hiburan yang disulap dengan dana desa yang berhasil mengubahnya menjadi seperti “Disney Land” yang menarik dan membuat setiap pengunjungnya pasti ingin balik lagi.

Makin ke timur kita perlu mampir Ponorogo, Madiun dan kalau mau terus ke Pacitan karena di tiga daerah ini sangat banyak ditawarkan hiburan yang belum pernah ada sebelumnya. Di Madiun jangan hanya di kota karena di wilayah kabupaten Madiun banyak desa yang kreatif telah menyulap desanya menjadi daerah wisata yang mengagumkan dengan makanan khas daerah Madiun yang menyajikan nasi pecel, rawon, sate ayam dan lainnya.

Kalau langsung ke Pacitan lewat jalur Ponorogo, maka kita akan mengalami suatu perjalanan yang menarik karena seluruh perjalanan hampir seperti merayap gunung di sebelah kanan dan tebing-tebing curam di sebelah kiri sehingga akan terkenang seperti pengalaman menonton film koboi tetapi kita menjadi pemainnya.

Kunjungan ke Pacitan perlu dirancang untuk tinggal lebih dari dua tiga hari karena Pacitan dewasa ini telah menyulap pantainya menjadi suatu pusat hiburan yang sangat indah dan penuh pesona. Banyak sekali kegiatan yang dapat dilaksanakan di pantai yang tidak saja di Kota Pacitan, yang terlah dikenal selama ini, tetapi ada di hampir seluruh pinggir pantai dari Pacitan sampai ke atas Gunung Lima telah diolah oleh masing-masing desanya menjadi wilayah turis yang membuat pengunjungnya tidak mau meninggalkan pantai yang penuh sajian makanan lokal yang sangat orisinal sehingga perlu dirasakan pagi hari, siang hari, malam hari dan kembali dinikmati hari berikutnya.

Anak-anak muda menyajikan tarian lokal yang disulap menjadi tontonan menarik karena dilakoni dengan semangat cinta tanah air dan ingin menunjukkan bahwa Pacitan bukan hanya bisa menghasilkan Presiden, Menteri atau Pejabat Tinggi saja, tetapi sesungguhnya kaya dengan seni dan budaya karena konon raja-raja di jaman dahulu kala, atau pejuang kemerdekaan, bersemedi, berburu, mengungsi mengatur siasat, dan konon menikah dengan gadis asli dan meninggalkan anak-anak yang menjadi penduduk yang sekilas seperti orang desa, tetapi sesungguhnya turunan keluarga raja, pangeran berdarah biru atau pejuang kemerdekaan, yang berbulan bulan bersemedi di pegunungan yang angker, berburu atau mengungsi di daerah yang perawan itu. @red (hs)

444 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!