Festival Naga Berbunga Desa Jambewangi Banyuwangi

Festival Naga Berbunga Desa Jambewangi Banyuwangi

Sindikat Post, Banyuwangi – Sejak Kabupaten Banyuwangi dipimpin oleh Bupati Azwar Anas beberapa tahun lalu, desa-desanya diarahkan menjadi desa yang mandiri dengan menyajikan beraneka ragam “akal” atau inovasi yang bisa menarik investor untuk datang dan menawarkan modal menggerakkan masyarakat di desa bergerak cepat membangun sarana dan prasarana sehingga masyarakatnya bisa mandiri dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Salah satu dari inovasi itu adalah Festival Naga Berbunga, guna mewujudkan Mimpi Petani Desa Jambewangi.
Menurut Suprayitno, Kepala Desa Jambesari, gagasan menggelar festival mendatangkan ribuan pengunjung memadati sepanjang jalan bulak Pucang Sari, yakni di Jalan Slamet Cokro, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi secara berbondong-bondong adalah untuk menghadiri puncak Festival Naga Berbunga Jambesari. Minggu (23/12/2018).

Festval itu biasanya dimulai dengan ritual berdoa khidmad mengharap keberkahan hasil pertanian yang dilakukan oleh umat lintas iman (Islam, Hindu, dan Nasrani), lalu masyarakat melepaskan ratusan lampion ke udara. Gegap gempita melepaskan lampion itu menarik perhatian khalayak yang mendatangkan pengunjung setiap kali ada acara. Pengunjung yang selalu membludak dijadikan Agenda rutin Desa Jambewangi sehjak tahun 2016. Masyarakat dibuat antusias mengikuti festival sebagai ekspresi yang makin spontan.

Festival tersebut semula merupakan inovasi dari upacara selamatan kampung musim kawin (polinasi) pohon buah naga yang memasuki musim berbunga. Potensi buah naga di Jambewangi cukup besar, yaitu sekitar 500 sampai 600 Hektar lahan pertanian yang ditanami buah naga. Komoditas buah naga semakin melengkapi potensi pertanian yang selama ini menjadi mata pencaharian utama sekitar 24 ribu penduduk Jambewangi.

Festival yang semula digagas pemuda-pemudi desa serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jambewangi itu tidak semata mengangkat buah naga saja. Namun, juga mengangkat potensi desa yang lain guna diperkenalkan kepada khalayak luas. Mulai dari berbagai produk UMKM, kuliner sampai tradisi dan budaya masyarakat setempat. Kini, Festival ini sudah masuk dalam jadwal Festival Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Karena itu warga terlibat penuh dalam pelaksanaan hingga pendanaan. Selain menggunakan dana kas desa, juga banyak warga yang ikut menyumbang dalam pelaksanaan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan membeli lampion. Lampion yang dilepas merupakan bentuk iuran warga untuk acara ini. Pada setiap Festival setidaknya ada 1.000 lampion masing-masing seharga Rp 20.000 ikut memeriahkan acara. Keuntungan Festival tersebut dipergunakan untuk membantu pembiayaan festival yang setiap tahun makin meriah. @red (hs)

243 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

1 Comment

  1. Terima kasih pak Ketua atas informasinya yang sangat baik untuk membantu mengatasi masalah pembentukan kesempatan kerja di desa/ di mana pun. Sangat tepat untuk menciptakan kesempatan kerja untuk mengatasi PENGANGGURAN! Harapannya untuk bekerja dan memperoleh penghasilan calon pekerja kita tidak usah pergi ke luar negeri ataupun di Gojek dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!