Diduga Ada Keterpihakan Penyidik Polsek Gayungan dalam Menangani Kasus Pelaporan Penipuan

Diduga Ada Keterpihakan Penyidik Polsek Gayungan dalam Menangani Kasus Pelaporan Penipuan

Sindikat Post, Surabaya – Surat pencabutan laporan polisi dan surat damai yang dilakukan Siti Aisyah terhadap Umar Faruq atau Moch. Umar di Polsek Gayungan Surabaya, masih menyisahkan persoalan. Hal tersebut disampaikan Kuasa Hukum Siti Aisyah, Didi Sungkono SH dari kantor Advokat Rastra Justitia Associates kepada wartawan Sindikat Post, Jumat (20/4/2018).

Didi Sungkono SH menerangkan akan melakukan pra peradilan apabila Pihak penyidik Polsek Gayungan melakukan SP3 perkara kliennya.

Ket : Advokat Didi Sungkono SH

“Silakan saja kalau memang mau di SP3 kan, itu adalah domain dan kewenangan penyidik, nanti akan kita siapkan upaya Pra-peradilan. Dipengadilan akan kita uji sah atau tidak SP3 nya, kita tunggu untuk di SP3 kan perkara tersebut, karena jelas diatur dalam Pasal satu (1) angka dua (2) KUHAP ini sudah penyidikan, tugas penyidik mencari dan mengumpulkan bukti sehingga terang tindak pidananya.” Tutur Didi Sungkono

“SP2HP saja baru dikirim sekali, lha kok ini malah Penyidik menakut nakuti pelapor, masyarakat ini mencari keadilan bukan malah ditakut takuti, lantas kapan masyarakat bisa percaya dengan oknum-oknum seperti itu? Apakah ini yang dinamakan PROMOTER ? (Profesional, Modern, Terpercaya), Rekan-rekan wartawan harus konfirmasi hal tersebut sesuai dengan tugasnya,” Pungkas Didi Sungkono.

Ket : Siti Aisyah (korban)

Perlu diketahui, Tejadinya Kasus penipuan yang menimpa klien dari Didi Sungkono yang bernama Siti Aisyah (53), ketika Siti Aisyah sekitar bulan November 2017 hendak membeli rumah diwilayah Gresik milik Gilang melalui Umar Faruq atau Moch Umar Dengan meyakinkan Faruq meminta uang muka kepada Siti Aisyah sebesar Rp.50 juta, semula Siti Aisyah tidak percaya dengan Umar Faruq tetapi ketika Umar Faruq menyatakan bahwa dirinya sudah membayar lebih dulu kepemilik rumah (Gilang) dan sambil menyerahkan kuitansi tanda terima yang ditandatangani oleh Gilang, akhirnya Siti Aisyah percaya dan membayar uang sebesar Rp. 45 juta sebagai uang muka. Ketika Gilang ditemui Siti Aisyah mengatakan tidak terima uang dari Faruk dan tidak pernah membuat tanda terima uang, merasa ditipu akhirnya Siti Aisyah melaporkan Faruq di Polsek Gayungan dan menerima surat laporan polisi dengan nomor STTLP /286 /B /XI /2017 /JATIM /Restabes SBY/ Sek.GYNG pada tanggal 23 November 2017.

Pada hari Jumat (16/3/2018) Faruq ditangkap Polsek Gayungan, dan pada hari Sabtu (17/3/2018) Umar Faruq membayar uang Rp. 35 juta dan berjanji seminggu lagi akan membayar kekurangannya Rp.10 juta ke Siti Aisyah, dan Setelah Siti Aisyah menerima uang tersebut dan mencabut pelaporan serta menandatangani surat perdamaian, akhirnya Umar Faruq dilepas oleh Polsek Gayungan.(17/3/2018)

Ket : Surat Laporan Polisi (fotokopi).

Seperti penuturan Siti Aisyah kepada wartawan Sindikat Post melalui sambungan telepon seluler. (15/4/2018). Sebenarnya Siti Aisyah, menginginkan meneruskan kasus tersebut tetapi karena diyakinkan penyidik dari Polsek Gayungan bernisial WM bahwa Umar Faruq akan membayar Rp. 35 juta dan kekurangan uangnya sebesar Rp.10 juta akan dikembalikan Faruq minggu depan, akhirnya Siti Aisyah menerima uang tersebut dan menandatangani pencabutan perkara serta menandatangani surat perdamaian pada tanggal 17/3/2018.

“Terima saja uang Rp. 35 juta sisanya dibayar Umar Faruq seminggu lagi, kata kata penyidik WM kepada saya, karena saya diyakinkan oleh WM akhirnya saya menerima uang tersebut, tetapi ketika setelah seminggu saya hubungi WM menanyakan kekurangan uang, ternyata WM selalu menghindar, padahal itu tanggung jawabnya, karena dia bilang Umar Faruq akan membayar kekurangannya, sehingga saya mencabut perkara dan menandatangani surat perdamaian,” ujar Siti Aisyah.

Ket : Umar Faruq / Moch Umar (Terlapor)

Ketika wartawan Sindikat Post mendatangi Polsek Gayungan untuk menemui WM dan Kanitreskrim Philips R Lopun SH, ternyata WM lepas piket dan Kanitreskrim Philips menjalani pendidikan, dan akhirnya wartawan Sindikat Post menemui Kapolsek Gayungan Kompol Lukito, dari penuturan Kapolsek, bahwa dirinya akan menanyakan perihal kasus tersebut kepada anak buahnya.(15/4/2018).

Philips, Kanitreskrim Polsek Gayungan saat dikonfirmasi melalui telepon seluler mengatakan bahwa kasus tersebut sudah damai dan tidak bisa diteruskan karena bukti lemah.(18/4/2018).

Ket : Tanda Terima yang diduga tandatangan Gilang(pemilik rumah)  dipalsukan Umar Faruq (fotokopi)

“Sudah ada pencabutan dan damai antara kedua belah pihak, jika diteruskan tidak bisa karena bukti lemah dan kedepannya kita akan lakukan SP3 dan Umar Faruq masih status terlapor dan sekarang Faruq masuk penjara di Sampang dengan kasus penipuan,” ucap Philips.

Apabila apa yang disampaikan pelapor Siti Aisyah terbukti bahwa WM berusaha meyakinkan dirinya menerima uang Rp.35 juta dan menyatakan bahwa kekurangan uangnya akan dibayar Umar Faruq, sehingga dengan omongan WM akhirnya Siti Aisyah mau  menandatangani surat pencabutan pelaporan dan surat perdamaian, tetapi setelah seminggu ternyata WM tidak mau bertanggung jawab dari apa yang dibicarakan. Dan dalam hal ini Umar Faruq yang diuntungkan, karena bisa lolos dari jerat hukum, sehingga diduga WM telah melakukan keperpihakan dalam perkara pidana yang ditanganinya.

Ket : Surat SP2HP yang diterima Siti Aisyah (terlihat ada kekeliruan tanggal penyidikan)

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No 2 Tahun 2003, tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri. Kemudian diperkuat dengan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 15 Tahun 2006, tentang Kode Etik Profesi Penyidik Polri. Dalam hal menangani perkara Penyidik tidak boleh melakukan keterpihakan terhadap perkara yang ditanganinya.

Dan apabila kasus ini benar benar di SP3 pihak polisi, yang dirugikan adalah Siti Aisyah, karena uang kekurangan sejumlah Rp. 10 juta dipastikan  tidak akan terbayar dan pelaku bisa lolos dari jerat hukum. Hal tersebut seperti yang dikatakan Didi Sungkono SH, “Bukti sudah kuat, semua saksi sudah ada, jika di SP3 yang rugi adalah klien saya, makanya saya tunggu apa benar kepolisian akan SP3 kasus yang menimpa klien saya, pasti saya akan mengambil upaya hukum pra-peradilan.” Ungkap Didi Sungkono SH. @ds

 

1,036 kali dilihat, 11 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!