Dari Aktifis Posdaya Menjadi Kepala Desa Mengelola Dana Desa

Dari Aktifis Posdaya Menjadi Kepala Desa Mengelola Dana Desa

Sindikat Post, Jakarta – Hari ini telah menemui Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Tim Pakar Menteri Desa PDTT, seorang Kepala Desa yang dimasa lalu pernah menjadi aktifis Gerakan Masyarakat Mandiri Posdaya, Pak Arifin, SSos, dari NTB yang karena sangat dekat dengan masyarakat di desanya, sejak tahun 2014 sampai tahun 2020 dipercaya masyarakat luas di desanya sebagai Kepala Desa di Desa Gontar Baru, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa, NTB. Senin (8/9/2019).

Disampaikannya bahwa kegiatannya dalam pengembangan Posdaya menjadi bekal untuk mengemban kepercayaan masyarakatnya sebagai Kepala Desa. Pak Arifin melaporkan bahwa sebagai Kepala Desa, pada tahun ini Desanya telah dipercaya oleh pemerintah mendapatkan dana sebesar Rp 1,3 milyar untuk keperluan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat, sehingga sebagai seorang santri yang taat, beliau berjanji akan bekerja keras mengelola dana desa dengan baik sesuai dengan amanah yang diberikan oleh pemerintah.

Kedatangannya disertai seorang pemuda yang baru berusia 20 tahun bernama Rudy Hartono yang konon selama enam bulan terakhir ini telah sanggup menjadi Penghafal Al Qur’an untuk 30 juz dengan fasih.

Dengan ceria Pak Arifin melaporkan bahwa setelah dana desa di tahun-tahun sebelumnya diperuntukkan pembangunan infrastruktur seperti jalan desa, jembatan, fasilitas PAUD, Posyandu, MCK dan lainnya, tahun ini sebesar 40 persen akan dialokasikan untuk pengembangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang lebih luas guna mengelola potensi desa yang tergolong desa terpencil.

Sementara itu, Bumdes di desa yang sudah dibangun di desanya yang relatif sangat tertinggal baru mengelola usaha pada prioritas terbatas pada usaha simpan pinjam bagi penduduk dan keluarga untuk keperluan usaha terbatas rumah tangga dalam bentuk usaha dagang dan pertanian di desanya, menanam tanaman jagung, pengembangan usaha pembuatan tahu dan usaha membuat batu bata untuk keperluan bangunan rumah dan lainnya.

Ditanyakan secara ditail apakah usaha pembuatan tahu dikerjakan sebagai industri di desanya, dijawab bahwa usaha itu bersifat tradisional, diolah secara manual sehingga nilai produksinya masih terbatas untuk konsumsi rakyat sekitar desanya.

Apakah Bumdes itu bisa membeli mesin pembuat tahu yang lebih otomatis Pak Arifin belum bisa memberi jawaban karena kebutuhan omset tahu untuk keperluan di desanya masih terbatas. Usaha pembuatan batu bata juga terbatas untuk keperluan membangun rakyat di sekitar desanya saja, belum meluas untuk keperluan usaha industri yang bisa menyerap banyak tenaga sehingga Bumdesnya masih beroperasi pada usaha yang dari segi pemasaran masih perlu mendapat dukungan dan bantuan pemasaran yang intensif agar usaha itu bisa menyerap banyak tenaga.
Kedatangannya ke Jakarta adalah dalam rangka pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa PDTT sehingga Pak Arifin akan bertemu dengan banyak Kepala Desa lain dan mudah-mudahan dapat menyerap pengalaman dari Kepala Desa yang usaha Bumdes di desanya lebih maju dan sanggup menyerap tenaga anggota keluarga miskin yang lebih banyak, untuk dikembangkan menjadi keluarga yang lebih sejahtera. @red (hs)

207 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!