BUMDes Antaludin Makmur Kelola Wisata Air di Desa Madang

BUMDes Antaludin Makmur Kelola Wisata Air di Desa Madang

Sindikat Post, Kalimantan Selatan – Desa Madang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan agak jauh dari Kota Banjarmasin, tetapi hanya sekitar 8 Km dari Kandangan. Jalan menuju desa ini beraspal dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat.

Menurut Noor Azazi, desa ini disebut Madang karena di desa ini banyak kayu madang. Kayu coklat merah kekuning-kuningan sampai keabu-abuan itu digunakan membuat papan, tiang, dan balok. Pada era perjuangan, kayu madang digunakan untuk membangun Benteng Madang. Benteng pertahanan para pejuang kemerdekaan saat menghadapi pasukan Belanda. Senin (31/12/2018).

Pada 10 Juni 2017, Musyawarah Desa Madang sepakat membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Antaluddin Makmur. Nama BUMDes diambil nama panglima perang supaya mewarisi ketangguhan sang panglima. Usaha yang dijalankan BUMDes diharapkan memberikan manfaat dan kemakmuran kepada masyarakat Desa Madang.

Di tengah-tengah hutan yang terdapat di desa itu terdapat sebuah cekdam yang terbentuk secara alami. Semasa kecil Pambakal Suriani sering bermain ke cekdam tersebut. Setelah terpilih sebagai kepala desa memiliki gagasan mengembangkannya sebagai wahana wisata air. Salah satu alasannya karena Suriani kecil sering melihat kura-kura besar yang kemudian diabadikannya dengan membangun patung kura-kura di gerbang wisata air tersebut. Wahana wisata air yang diberi nama Cekdam Tayub BUMDes Antaluddin Makmur ini mulai dibangun pada awal Januari 2018 melibatkan sekitar 50 orang warga dalam pengerjaan proyek swakelola dengan anggaran Dana Desa sebesar Rp 50.290.000,-. Selanjutnya dikelola BUMDes Antaluddin Makmur yang diketuai oleh Ruspandi.

Sejak dibuka Februari 2018, wahana wisata ini mampu memberikan pendapatan rata-rata Rp 40 juta perbulan bagi BUMDes. Pengunjung tidak dikenai biaya masuk, namun memperoleh pendapatan parkir Rp 10.000,- per motor dan Rp 25.000,- untuk kendaraan roda empat. Pengunjung yang ingin menikmati rekreasi naik sepeda air ke tengah cekdam dikenakan tarif Rp 5.000,- per jam. Selain itu ada pungutan Rp 25.000,- per hari dari setiap pedagang yang berjualan di sana. Suriani selaku Kepala Desa atau Pambakal ingin mengembangkan wahana wisata terpadu. BUMDes Antaluddin Makmur dan untuk itu telah membeli lahan kelapa sawit di sekitar lokasi untuk dikembangkan sebagai area agro-wisata. Semoga berhasil dan mendatangkan dana untuk memakmurkan rakyat banyak.@red

828 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!