Ahmad Hilmi Pengemudi Ojol, Dari Tahanan Rutan Menjadi Tahanan Kota

Sindikat Post, Surabaya – Ratusan Pengemudi Ojok Online (Ojol) se-Jawa Timur melakukan aksi solidaritas didepan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dikawal personil aparat dari Polsek Sawahan dan personil Polrestabes Surabaya. Tujuan aksi yang dilakukan ppengemudi OJol adalah mengawal proses kasus persidangan rekan seprofesinya bernama Ahmad Hilmi Hamdani. Rabu (30/1/2019).

Ket : Ahmad Hilmi Hamdani  dikawal kejaksaan saat menuju ruang sidang

Ahmad Hilmi didakwa melanggar pasal 310 ayat 4 Undang Undang RI no. 22 tahun 2009 tentang lalulintas dan angkutan jalan karena dinilai lalai dalam berkendara hingga mengakibatkan penumpangnya meninggal dunia.

Dalam persidangan dengan agenda mendengarkan saksi Taufik dari pihak kepolisian, saksi Efendi yang terlibat tabrakan berdinas di TNI AL dan saksi Lutfi anak korban yang meninggal dunia, ada beberapa fakta persidangan yang menarik di perhatikan.

Ket : Suasana persidangan

Dalam Kesaksian Taufik, dirinya mengatakan bahwa datang ke lokasi sudah tidak ada para korban tabrakan. Ia mengamankan barang bukti berupa pecahan kaca dan dua sepeda motor yakni sepeda motor Kawasaki Ninja 650 cc milik Efendi anggota TNI AL dan Yamaha Vega milik Ahmad Hilmi pengemudi Gojek.

Ket : Istri Ahmad Hilmi (tengah) saat mengikuti persidangan suaminya

Taufik juga menerangkan bahwa ia mendatangi RS. Siti Khodijah untuk melihat keadaan Ahmad Hilmi dan penumpangnya, serta melihat Efendi di RS Marinir, dan dirinya juga membuat sketsa kecelakaan di TKP dari keterangan saksi dan pecahan kaca di lokasi, tapi ada yang sangat disayangkan oleh majelis Hakim, saat Taufik ditanya apakah menghitung bekas rem, karena itu ada rumus dilalulintas yang bisa menemukan berapa kecepatan dari para pengemudi itu, yang dijawab Taufik tidak menghitung itu.

Dikesempatan yang sama saat Efendi menjadi saksi, ia mengatakan bahwa kecepatan dirinya mengemudi sekira 50-60km /jam, dan jarak pandang di jalan sekira 50 m, pada saat Ahmad Hilmi belok mau masuk ke Bogangin, dirinya sempat injak rem tetapi tidak ada cukup waktu akhirnya terjadi tabrakan, dan sebelum tabrakan dirinya sempat melompat dari sepeda motor Kawasaki Ninja yang dikendarainya.

Didalam persidangan terkuak fakta bahwa, korban yang meninggal dunia yang menyebabkan Ahmad Hilmi dipenjara, pada saat kecelakaan korban terluka baru 3 bulan setelah terjadinya kecelakaan korban meninggal dunia.

Setelah kecelakaan dan sebelum korban meninggal dunia, ada surat kesepakatan yang dibuat ketiga pihak, Dari Surat kesepakatan itu tertulis Efendi mengeluarkan dana santunan sebesar Rp. 7 juta ke Helmi, dan ke keluarga korban Rp. 3 juta ditambah Rp. 1,5 juta beberapa waktu setelah tandatangan kesepakatan bersama.

Dari fakta persidangan, ada beberapa fakta baru yang muncul, Ahmad Helmi saat mengemudi Gojek, dirinya membonceng seorang wanita, dan terjadi kecelakaan tabrakan antara dirinya waktu itu mengendari sepeda motor Vega dan Efendi mengendari sepeda motor Kawasaki Ninja, ketika kecelakaan mereka bertiga luka luka, dan korban penumpang Helmi meninggal dunia setelah 3 bulan dari waktu kejadian.

Dan dari kesaksian Efendi bahwa dirinya beberapa kali ke rumah korban dan terlihat korban sudah sembuh, dan infonya korban meninggal dunia bukan karena kecelakaan pada waktu itu tapi karena penyakit lain.

Dan fakta yang terungkap lainnya adalah, sudah ada surat kesempatan bersama dan didalam surat kesepakatan itu ada tertulis dari anak korban bernama Lutfi bahwa ibunya meninggal bukan karena kecelakaan tapi karena sakit.

Dari mendengarkan para saksi dan permohonan dari keluarga Ahmad Hilmi, untuk meminta penanguhan penahanan. Majelis hakim berpendapat dan memutuskan terhitung hari ini Rabu (30/1/2019) tempat penahanan Ahmad Hilmi dirubah, dari penahanan dirumah tahanan (rutan) diganti menjadi tahanan kota, dan harus hadir disaat persidangan. Persidangan akan dilanjutkan lagi tanggal 7 Februari 2019. @red (team)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *